DINAMIKAUANG.COM — Tekanan terhadap rupiah hari ini datang dari penguatan dolar AS yang kembali perkasa. Selain data jasa yang solid, greenback juga ditopang imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih bertahan di level tertinggi dalam beberapa dekade, akibat kekhawatiran utang pemerintah dan tekanan inflasi.
Namun, laju dolar tertahan oleh rencana Departemen Keuangan AS yang akan meningkatkan buyback obligasi jangka panjang. Pelaku pasar khawatir kebijakan menekan yield ini justru membebani nilai tukar dolar.
Level Rp18.000 Bukan Lagi Skenario Terburuk
Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai pelemahan rupiah kali ini tidak bisa dilepaskan dari membengkaknya defisit transaksi berjalan. Pada kuartal II-2026, defisit mencapai US$12,49 miliar, melonjak dari US$3,58 miliar pada kuartal sebelumnya.
Kondisi itu meningkatkan kebutuhan Indonesia terhadap aliran dana asing untuk menutup pembiayaan eksternal. Imbasnya, ruang penguatan rupiah menjadi terbatas dan pergerakannya rentan bergejolak.
Irman menyebut level Rp18.000/US$ masih mungkin diuji kembali jika tekanan global meningkat atau aliran modal asing tidak mencukupi kebutuhan pembiayaan.
"Baseline kami masih melihat USD/IDR akhir tahun di kisaran Rp17.900-18.150, sehingga Rp18.000 bukan merupakan tail-risk scenario, tetapi masih berada dalam range fundamental kami," tuturnya.
Sentimen yang Akan Menentukan Arah Rupiah
Pelaku pasar saat ini tengah menantikan dua katalis utama. Pertama, rincian sanksi baru AS terhadap Iran. Kedua, pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat pekan ini.
Pernyataan Warsh akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS. Sinyal yang dihasilkan dari pidato tersebut berpotensi menjadi penentu pergerakan dolar dan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sempat dibuka menguat tipis 0,03% ke level Rp17.680/US$ sebelum akhirnya berbalik melemah 25 poin hingga penutupan. Posisi penutupan ini sekaligus menjadi level terlemah rupiah dalam beberapa sesi terakhir, memperkuat sinyal bahwa tekanan eksternal masih mendominasi pergerakan mata uang Garuda.