JAKARTA - Perum Bulog Cabang Cirebon mencatatkan realisasi distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 24.290 ton hingga September 2026. Angka penyaluran tersebut setara dengan 137 persen dari alokasi yang dipatok untuk masa operasional ini.
Pimpinan Perum Bulog Cabang Cirebon Imam Mahdi memaparkan bahwa kuota dasar penyaluran SPHP mulanya dipatok sebesar 17.664 ton. Namun, dalam perjalanannya eksekusi di lapangan sanggup melampaui sasaran awal hingga mencatatkan surplus di atas 6.600 ton.
"Target kami sebenarnya 17.664 ton, sedangkan saat ini sudah tercapai 24.290 ton atau 137% di atas target," ujar Imam, Rabu (16/9/2026).
Imam menilai lonjakan angka penyaluran tersebut membuktikan krusialnya fungsi SPHP dalam mengamankan ketersediaan stok sekaligus menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat. SPHP berperan sebagai salah satu alat navigasi Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Di samping membagikan beras ke pasaran, Bulog mengawal ketahanan pasokan lewat aksi penyerapan gabah maupun beras hasil panen petani lokal.
"Adapun aspek keterjangkauan didukung oleh jaringan pergudangan yang memungkinkan beras dan komoditas pangan lainnya didistribusikan sesuai kebutuhan wilayah," tuturnya.
Imam merinci bahwa Bulog Cabang Cirebon saat ini mengoperasikan 10 fasilitas pergudangan utama. Selain itu, terdapat 42 unit gudang tambahan yang dikelola memanfaatkan mekanisme sewa maupun kolaborasi bersama mitra usaha.
Rantai logistik gudang tersebut tak sekadar difokuskan untuk mengamankan wilayah kerja Cirebon. Sebagian cadangan turut dikirim untuk memasok wilayah lain, seperti Bogor, Bandung, Cianjur, serta Ciamis. Pengiriman bahkan menjangkau kawasan luar Pulau Jawa manakala ada permintaan pasokan.
Imam mencatat sejumlah wilayah luar Jawa yang memperoleh topangan pasokan dari Bulog Cirebon di antaranya Kalimantan Barat, Sumatra Utara, Riau, hingga Padang.
Di luar program SPHP, Bulog mengeksekusi program bantuan pangan selaku instrumen penstabil harga. Imam menggarisbawahi bahwa efektivitas agenda ini sangat bertumpu pada ketepatan jadwal serta ketepatan sasaran penerima manfaat.
"Bantuan pangan kami dorong secepat mungkin agar tepat waktu dan tepat sasaran karena kalau tidak tepat sasaran dapat menjadi kerugian bagi Bulog," katanya.
Demi mendekatkan akses pasokan beras SPHP kepada masyarakat, Bulog menjalin kemitraan erat bersama pemerintah daerah lewat pengerjaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serta Operasi Pasar Murah (OPM).
Di lingkup Kota Cirebon, Bulog bersinergi dengan pemerintah kota serta Bank Indonesia melalui kehadiran Warung Peduli Inflasi (Waduli) dan fasilitas armada mobil pangan keliling (Mol Pangling). Waduli bertempat di pasar-pasar yang menjadi titik pantau harga pasar. Beras disalurkan mendekati ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) di bawah pengawasan dinas.
Imam menandaskan bahwa pendirian Waduli tidak ditujukan untuk memangkas omzet pedagang pasar. Inisiatif tersebut murni dihadirkan untuk menggaransi ketersediaan komoditas cadangan pemerintah sehingga pergerakan harga tidak melonjak melebihi HET.
"Model serupa juga diterapkan di sejumlah daerah dengan nama dan mekanisme berbeda. Di Kabupaten Cirebon, misalnya, terdapat program Kospi, sedangkan di Kuningan dikenal dengan nama Kunci Bunda," tutupnya.