DINAMIKAUANG.COM — Dilansir dari Paultan, Senin (31/8/2026), belum ada keputusan resmi yang diumumkan. Namun, arah pembicaraan ini cukup menarik karena Perodua kini punya modal penting: QV-E, mobil listrik yang dikembangkan mandiri tanpa komponen dari Daihatsu.
Perodua Punya Modal Besar, Daihatsu Justru Butuh Basis EV
Selama lebih dari tiga dekade, Daihatsu dikenal sebagai pemasok teknologi utama untuk Perodua. Sebaliknya, beberapa produk Perodua juga pernah menjadi basis kendaraan Daihatsu. Contoh paling dekat adalah Daihatsu Sirion di Indonesia yang lahir dari platform Perodua Myvi.
Kini situasinya berbalik. Perodua sudah memiliki QV-E yang sepenuhnya dikembangkan sendiri, sementara Daihatsu belum punya mobil listrik murni yang bisa dijadikan basis produksi massal. Kondisi ini membuka peluang pola kerja sama terbalik: Daihatsu justru mengambil basis dari Perodua.
Pola semacam ini bukan hal baru dalam industri otomotif global. Pabrikan Jepang kerap memanfaatkan model dari anak usaha atau mitra lokalnya untuk mempercepat elektrifikasi di pasar berkembang.
Indonesia Jadi Pasar Potensial untuk EV Bermerek Daihatsu
Jika Daihatsu benar-benar menggunakan QV-E sebagai basis, Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling masuk akal untuk peluncurannya. Jaringan dealer Daihatsu di Tanah Air sangat luas, dan brand ini punya basis konsumen yang loyal.
Pasar mobil listrik Indonesia sendiri kini semakin kompetitif. Merek-merek asal China seperti Wuling, BYD, dan Chery sudah lebih dulu bermain dengan harga yang agresif. Kehadiran Daihatsu EV berbasis Perodua bisa menjadi alternatif menarik, terutama jika diposisikan di segmen harga menengah.
Belum ada konfirmasi soal spesifikasi teknis maupun waktu peluncuran. Namun, jika kerja sama ini terealisasi, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi pasar pertama di luar Malaysia untuk produk EV hasil kolaborasi kedua pabrikan tersebut.
Kemungkinan Kedua: Daihatsu Ikut Mengembangkan EV Perodua Berikutnya
Selain opsi menggunakan QV-E sebagai basis, ada kemungkinan lain yang juga sedang dipertimbangkan. Daihatsu bisa ikut terlibat dalam pengembangan mobil listrik Perodua generasi berikutnya, bukan sekadar mengambil produk jadi.
Model kerja sama semacam ini lebih masuk akal secara bisnis. Daihatsu bisa menyuntikkan teknologi elektrifikasi yang mereka miliki, sementara Perodua membawa pengetahuan lokal tentang pasar Malaysia dan kawasan ASEAN. Hasilnya bisa menjadi platform bersama yang dipakai kedua merek, mirip seperti yang dilakukan Toyota dan Suzuki di beberapa segmen.
Bagi konsumen Indonesia, kabar ini tetap menarik untuk diikuti. Apapun bentuk kerja samanya, peluang hadirnya mobil listrik bermerek Daihatsu di pasar lokal kini lebih nyata dari sebelumnya.