Pendapatan Harita Nickel Capai Rp17,1 Triliun di Semester I 2026

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:40:31 WIB
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel membukukan pendapatan sejumlah Rp17,1 triliun pada semester pertama tahun 2026. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel membukukan pendapatan sejumlah Rp17,1 triliun pada semester pertama tahun 2026, yang ditopang oleh kedisiplinan operasional hingga maksimalisasi kapasitas produksi.

Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan mengemukakan bahwa perseroan terus mengusahakan penjagaan performa operasional di tengah dinamika industri nikel dunia.

“Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen,” ujar Suparsin dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Perusahaan tambang dan pengolahan nikel terpadu tersebut merilis laporan keuangan untuk periode yang rampung pada tanggal 30 Juni 2026.

Menurut dia, di tengah fluktuasi industri nikel dunia, pihaknya senantiasa memelihara konsentrasi pada efisiensi operasional, optimalisasi rantai nilai terpadu, serta pemantapan praktik bisnis yang bertanggung jawab demi merawat keandalan produksi dan menopang ekspansi jangka panjang.

Berdasarkan aspek operasional, kenaikan performa penjualan bijih nikel apabila dibandingkan dengan kurun waktu yang serupa tahun lalu turut menyokong perolehan entitas bisnis tersebut.

Kenaikan itu disokong oleh mulai beroperasinya fasilitas pertambangan anyar PT Gane Tambang Sentosa (GTS) sejak kuartal III 2025 serta penambahan lini produksi instalasi pirometalurgi PT Karunia Permai Sentosa (KPS).

Pada sektor pirometalurgi, penjualan feronikel bertambah jika disandingkan dengan kurun waktu yang sama tahun sebelumnya, utamanya dipicu oleh lonjakan output dari tambahan lini produksi instalasi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik KPS. 

Sementara itu, penjualan komoditas High Pressure Acid Leach (HPAL) pada sektor hidrometalurgi dipengaruhi oleh waktu pengiriman.

Pihaknya pun konsisten memperkuat daya saing lewat manajemen operasional terpadu mulai dari aktivitas penggalian sampai pemurnian nikel.

Maksimalisasi kapasitas produksi secara berjenjang di pelbagai fasilitas diantisipasi mampu mendongkrak keluwesan operasional di samping merawat keandalan pasokan guna mencukupi keperluan konsumen.

Pada bidang keberlanjutan, korporasi juga merintis aneka program dekarbonisasi guna mendongkrak efisiensi energi serta menekan pembuangan gas rumah kaca.

Salah satu caranya lewat pendayagunaan teknologi waste heat recovery di instalasi HPAL yang didesain memproduksi daya listrik mencapai 50 MW dan dijadwalkan selesai pada kuartal IV 2026.

Terkini

Nindya Karya Kebut Proyek Garam Nasional Di Rote Ndao

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:47:01 WIB

Belanja Pemerintah Jadi Penopang Ekonomi Kuartal II-2026

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:45:31 WIB

OJK Dorong Transformasi Digital Industri Dana Pensiun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:44:01 WIB

Panduan Lengkap Beli Tiket GIIAS 2026 Online

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:42:31 WIB