7 Fakta Pelayaran Garibaldi dan Kolonel Fuad

7 Fakta Pelayaran Garibaldi dan Kolonel Fuad

DINAMIKAUANG.COM — Kedatangan kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi di Tanjung Priok jadi tonggak sejarah TNI AL. Untuk pertama kalinya, personel Indonesia ikut mengawaki kapal induk dalam pelayaran 25 hari dari Italia. Di balik misi itu ada Kolonel Laut (P) Mochamad Fuad Hasan, calon komandan pertama kapal yang akan berganti nama jadi KRI Sriwijaya.

Pelayaran ini menandai pertama kalinya personel TNI AL terlibat langsung dalam pengawakan kapal induk. Kolonel (P) Fuad Hasan memimpin kru Indonesia mendampingi 300 kru Angkatan Laut Italia menempuh rute Taranto-Jakarta.

1. Kolonel Fuad Jadi Calon Komandan Pertama

Kolonel Laut (P) Mochamad Fuad Hasan dipercaya sebagai calon komandan kapal yang nantinya berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. Ia menyebut kepercayaan ini sebagai kehormatan yang tak pernah ia bayangkan sejak masih berpangkat Letda.

"Dulu belum terbayang juga saya sampai ke step komandan, dan hari ini ataupun pada saat ini, kita kita mengalami milestone ini, kita menjumpai sejarah yang luar biasa, Indonesia punya kapal induk," kata Fuad di Dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026).

2. Pelayaran 25 Hari dari Taranto ke Jakarta

ITS Giuseppe Garibaldi berlayar sekitar 25 hari dari Taranto, Italia, sebelum bersandar di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal ini dikawaki gabungan personel Indonesia dan Italia dengan konsep joint crew.

Fuad menegaskan pelayaran itu bukan sekadar pemindahan kapal. "Ini adalah sejarah pertama bagi bangsa Indonesia, kami mengawaki calon kapal induk," ujarnya.

3. Tiga Bulan Persiapan Sebelum Berlayar

Sebelum berlayar, Fuad dan personel Indonesia menjalani familiarisasi di Kolat Koarmada II selama kurang lebih satu bulan. Pelatihan lanjutan digelar di pangkalan Angkatan Laut Italia di Taranto, juga sekitar satu bulan.

Total proses yang dijalani sejak pelatihan awal hingga tiba di Indonesia mencapai kurang lebih tiga bulan.

4. Kru Indonesia Langsung Mengawaki, Bukan Cuma Belajar

Selama pelayaran, personel Indonesia tidak hanya menonton. Mereka menempati penjagaan, memasak, dan bekerja harian sesuai bidang, departemen, serta divisi masing-masing bersama kru Italia.

"Jadi sambil kami belajar, kami mengawaki," kata Fuad menjelaskan pola joint crew yang diterapkan di kapal.

5. Kendala Bahasa Diatasi dengan Google Translate

Komunikasi jadi tantangan awal karena kru berasal dari dua negara berbeda. Fuad mengaku bahasa menjadi kendala utama yang harus dihadapi kedua pihak.

"Kesulitan pada awalnya selalu kita dihadapkan sama bahasa, komunikasi. Namun demikian, ya kita pakai teknologi lah, ada Google Translate segala macam," ujar Fuad.

Seiring perjalanan, hubungan kedua kru makin dekat. "Jadi kita ini berlayar bersama itu sudah seperti keluarga," ungkapnya.

6. Melewati Laut Merah dengan Pengawalan Fregat Italia

Rute pelayaran melewati Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, hingga Teluk Aden. Tiga perairan itu jadi perhatian karena isu keamanan maritim.

Selama melewati kawasan tersebut, Giuseppe Garibaldi dikawal fregat Italia ITS Carlo Bergamini. Pengawalan berkaitan dengan operasi EUNAVFOR ASPIDES yang melindungi kapal niaga negara Eropa.

7. Mesin Aman, Kapal Disebut Klasik dan Cantik

Fuad memastikan tidak ada kendala mesin selama pelayaran 25 hari. Ia menyebut Giuseppe Garibaldi sebagai kapal klasik, unik, tanpa kembaran, dan cantik.

"Kapal ini, saya tidak mau bilang kapal ini tua, kapal ini klasik, kapal ini unik, tidak ada kembarannya, dan kapal ini cantik, beautiful, ya," tuturnya.

Setelah resmi jadi KRI Sriwijaya, kru akan terus berlatih. Fuad menyebut misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana jadi prioritas sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Dari familiarisasi tiga bulan hingga pelayaran 25 hari, misi ini menandai babak baru kemampuan TNI AL mengoperasikan kapal induk. Fuad dan kru menyatakan siap menjalankan misi apa pun begitu KRI Sriwijaya resmi beroperasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index