Konflik AS-Iran Panas, Rupiah Jatuh ke Rp 17.722 per Dolar AS

Konflik AS-Iran Panas, Rupiah Jatuh ke Rp 17.722 per Dolar AS

DINAMIKAUANG.COM — Eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi pemicu utama keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik. Investasi asing yang sebelumnya masuk ke instrumen berdenominasi rupiah memilih bergerak ke aset safe haven seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran pada Minggu (30/8). Ini merupakan serangan pertama yang dilakukan Washington terhadap negara Teluk tersebut sejak akhir Juli. Iran merespons dengan menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, sebagaimana dilaporkan media Iran pada Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran.

Selat Hormuz dan Sanksi Baru AS

Konflik yang terus memanas mempersulit upaya mediasi untuk membuka kembali Selat Hormuz—jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari. Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai negosiasi pengakhiran konflik saat ini sedang menemui jalan buntu.

Dari sisi kebijakan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan akan memberlakukan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap pekan. Targetnya tegas: memutus total akses Republik Islam tersebut dari sistem keuangan berbasis dolar.

Tekanan Eksternal Mendominasi Kurs Rupiah

Ibrahim menilai sentimen eksternal masih memberi kontribusi dominan pada pelemahan mata uang Garuda. Kekhawatiran utama pelaku pasar tertuju pada potensi gangguan pasokan energi global apabila konflik meluas ke infrastruktur minyak di sekitar kawasan Teluk.

Tekanan geopolitik kali ini datang di saat kondisi fiskal dan moneter domestik tengah berusaha stabil, sehingga pergerakan nilai tukar menjadi sensitif terhadap gejolak global. Level psikologis Rp 17.700 per dolar AS yang sempat bertahan selama beberapa hari terakhir akhirnya tertembus.

Sepanjang sesi perdagangan hari ini, kisaran pergerakan rupiah berada di rentang yang cukup lebar, mencerminkan tingginya volatilitas akibat sentimen politik luar negeri. Pelaku pasar akan mengamati respons pemerintah Indonesia dan langkah Bank Indonesia dalam menenangkan pasar valuta asing pada perdagangan esok hari.

Investasi mengandung risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index