DINAMIKAUANG.COM — Gangguan di Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pasokan energi dunia, menjadi pemicu utama gejolak. Meski dampaknya belum separah krisis minyak 1970-an, efek berantai ke rantai pasok dan biaya transportasi mulai terasa di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih mengimpor minyak mentah.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah memberi sinyal ke sekutu bahwa Washington kemungkinan tidak akan melancarkan serangan baru "untuk saat ini", setelah operasi militer gagal memaksa Teheran menyerah. AS pun kembali mengandalkan tekanan ekonomi sebagai senjata utama.
Popularitas Trump Tergerus Harga BBM
Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump turun dari 40% menjadi 33% sejak konflik dimulai. Harga bahan bakar yang naik bertentangan langsung dengan janji kampanyenya untuk menurunkan biaya hidup.
Hanya 31% warga AS yang mendukung kelanjutan konflik. Angka ini menjadi sinyal bahaya bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November, ketika mereka berusaha mempertahankan mayoritas tipis di Kongres. Perang juga memperlebar perpecahan internal partai soal apakah tekanan militer ke Teheran perlu dilanjutkan.
Ekonomi Global Tahan Guncangan, IMF Pangkas Proyeksi
IMF kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3% tahun ini, turun dari proyeksi 3,3% pada Januari. Negara-negara besar dinilai lebih tahan terhadap guncangan energi dibanding era 1970-an berkat efisiensi energi dan kuatnya investasi, termasuk di sektor kecerdasan buatan.
Namun, risiko tetap mengintai. Gangguan pelayaran Iran ditambah aksi kelompok Houthi terhadap lalu lintas terkait Arab Saudi di Laut Merah telah menaikkan biaya asuransi dan transportasi, yang dampaknya menjalar ke perekonomian negara-negara Teluk.
Iran Terpukul Tapi Belum Kalah
Serangan AS dan Israel telah menghancurkan 161 kapal perang Iran dan melumpuhkan 82% sistem pertahanan udaranya, menurut Laksamana Brad Cooper, komandan militer AS untuk Timur Tengah. Namun, Teheran masih mampu meluncurkan drone dan rudal serta mempertahankan gangguan di Selat Hormuz.
Di sisi domestik, perang memperburuk ekonomi Iran. Inflasi makanan mencapai 128% secara tahunan pada Juli, menurut Pusat Statistik Iran. Ironisnya, konflik justru meredakan perbedaan internal dan memperkuat tindakan pemerintah terhadap kelompok oposisi.
Program Nuklir Melambat, Stok Militer AS Terkuras
Serangan merusak tiga fasilitas pengayaan Iran. Intelijen AS memperkirakan waktu yang dibutuhkan Teheran untuk memproduksi material bom nuklir kini mencapai satu tahun, naik dari sekitar enam bulan sebelum perang. Namun, Badan Energi Atom Internasional belum bisa memverifikasi keberadaan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%.
Perang juga menguras kesiapan militer AS. Sebanyak 18 personel tewas dan 42 pesawat hilang. Reuters melaporkan AS telah menggunakan hampir seluruh stok global untuk jenis rudal presisi tertentu, termasuk sekitar 65% pencegat Patriot dan setidaknya 38% stok THAAD. Washington juga menarik aset dari Eropa dan Asia-Pasifik ke Timur Tengah, memunculkan pertanyaan tentang kesiapan AS menghadapi potensi konflik di kawasan lain.