Defisit Dagang dengan China Menganga, Indonesia Butuh Strategi Industri Bukan Sekadar Ekspor

Defisit Dagang dengan China Menganga, Indonesia Butuh Strategi Industri Bukan Sekadar Ekspor

DINAMIKAUANG.COM — Jakarta - Rancangan agenda kerja sama Indonesia-China untuk periode 2027–2031 yang disusun dalam pertemuan pertama Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) pada 21 Agustus 2026 mencakup spektrum luas: perdagangan, energi, mineral, maritim, kecerdasan buatan, hingga keamanan. Namun, di balik luasnya cakupan itu, data perdagangan terkini menunjukkan pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor nonmigas dari China mencapai 70,19 miliar dolar AS pada Januari-Oktober 2025, atau setara 40,90 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Sementara itu, ekspor nonmigas ke China pada Januari-November 2025 hanya 58,24 miliar dolar AS, atau 23,80 persen dari total ekspor nonmigas.

Defisit Bukan Sekadar Angka, Melainkan Cermin Struktur Industri

Selisih nilai impor dan ekspor tersebut sering dibaca sebagai defisit neraca perdagangan. Ekonom justru melihat persoalan yang lebih mendasar: apakah impor barang modal dan bahan baku dari China mampu mendorong industrialisasi domestik atau justru membuat industri lokal semakin bergantung.

Impor mesin, peralatan, dan komponen memang kebutuhan negara yang sedang membangun basis manufaktur. Masalah muncul ketika ketergantungan impor tersebut tidak diikuti penguatan kapasitas produksi dalam negeri.

China Butuh Lebih dari Sekadar Pasar dan Pemasok Bahan Mentah

Bagi China, Indonesia adalah mitra yang terlalu besar untuk sekadar menjadi pasar ekspor atau pemasok bahan mentah. Bagi Indonesia, China adalah mitra ekonomi yang terlalu penting untuk diabaikan. Titik temu kepentingan inilah yang menjadi fondasi rancangan kerja sama lima tahun ke depan.

Kemitraan yang sehat mensyaratkan kedua belah pihak bertemu dengan aturan main yang memungkinkan masing-masing meningkatkan kapasitasnya. Indonesia tidak bisa hanya menjadi penonton di dalam negerinya sendiri ketika investasi asing masuk.

Agenda 2027–2031: Momen Membangun Kemampuan Produksi Domestik

Pertemuan CSD di Jakarta menghasilkan rancangan yang mencakup kerja sama di bidang pangan, kesehatan, pendidikan, hingga teknologi mutakhir. Ini adalah peluang bagi Indonesia untuk menegosiasikan posisi yang lebih menguntungkan dalam rantai pasok global.

Pertanyaan kunci yang harus dijawab dalam lima tahun ke depan bukan lagi apakah Indonesia perlu bekerja sama dengan China, melainkan bagaimana memastikan setiap kerja sama yang terjalin membuat perekonomian nasional lebih kokoh. Impor barang modal bisa menjadi investasi produktivitas masa depan apabila diiringi kebijakan yang mendorong hilirisasi dan transfer teknologi.

Tanpa strategi industri yang jelas, defisit dagang yang menganga hanya akan menjadi pengingat tahunan atas peluang yang terlewat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index