BI Tahan Suku Bunga 5,75%, AllianzGI Rekomendasikan Obligasi Tenor Pendek

BI Tahan Suku Bunga 5,75%, AllianzGI Rekomendasikan Obligasi Tenor Pendek

DINAMIKAUANG.COM — Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada Agustus 2026 menegaskan prioritas stabilitas nilai tukar rupiah. Sebelumnya, otoritas moneter telah menaikkan bunga sebesar 1% sejak Mei sebagai langkah pengendalian tekanan eksternal.

Head of Fixed Income AllianzGI Indonesia, Fitri Lindawati, menyebut tekanan inflasi domestik mulai mereda seiring penurunan harga pangan dan minyak. Namun, selisih suku bunga dengan pasar global masih menjadi pertimbangan utama yang membatasi ruang pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Pendapatan Kupon Lebih Menarik daripada Capital Gain

Fitri menilai kondisi pasar saat ini lebih menguntungkan bagi investor yang mengincar pendapatan tetap dari kupon obligasi ketimbang keuntungan dari kenaikan harga surat utang. Ia merekomendasikan obligasi tenor pendek karena menawarkan risk-adjusted return yang lebih baik.

"Dalam jangka pendek, kami melihat pendapatan dari kupon obligasi (carry) masih lebih menarik dibanding capital gain. Obligasi tenor pendek menawarkan risk-adjusted return yang menarik, sementara posisi kas penting untuk menjaga fleksibilitas menambah eksposur risiko saat terjadi dislokasi pasar dan muncul peluang investasi dengan valuasi menarik," ujar Fitri dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Untuk portofolio obligasi, AllianzGI menyarankan durasi dipertahankan netral hingga sedikit di bawah posisi acuan. Penambahan durasi baru disarankan dilakukan apabila terjadi repricing yang menawarkan level lebih menarik.

Obligasi Perusahaan AI Raksasa Jadi Perhatian Global

Di pasar global, AllianzGI menyoroti meningkatnya penerbitan obligasi korporasi dari perusahaan teknologi besar yang dikenal sebagai hyperscalers. Total nilai obligasi perusahaan AI terbesar telah mencapai hampir US$500 miliar, termasuk sekitar US$100 miliar yang terkait pendanaan pusat data.

Pelebaran spread setelah aksi jual saham berbasis AI pada Juli lalu dinilai membuka peluang investasi selektif. AllianzGI tetap positif terhadap hyperscalers terkemuka karena ditopang neraca yang kuat, bisnis terdiversifikasi, serta potensi peningkatan peringkat kredit.

Peluang juga terlihat pada aset spread berkualitas dengan all-in yield menarik. Investment-grade floating-rate notes disebut dapat menjadi penopang portofolio, sementara obligasi berimbal hasil tinggi membantu meningkatkan pendapatan sekaligus meredam volatilitas pasar saham.

Tiga Faktor yang Perlu Dicermati Investor Global

Ke depan, pergerakan yen Jepang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar valuta asing. Pertemuan bankir sentral di Jackson Hole juga dinantikan pasar untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve.

Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz menjadi risiko yang patut diwaspadai karena dapat mendorong kenaikan harga minyak apabila berlanjut. AllianzGI menegaskan pendekatan berbasis fundamental, riset independen, dan manajemen risiko yang disiplin tetap menjadi pegangan utama dalam menghadapi dinamika pasar kredit global.

Investasi mengandung risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index