DINAMIKAUANG.COM — Rupiah dibuka melemah 0,18% ke Rp17.724 per dolar AS, lalu melanjutkan penurunan 0,24% ke Rp17.735 pada pukul 09:10 WIB. Pelemahan terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75-4%. Kenaikan itu memperkuat indeks dolar AS ke 100,27 dan menekan hampir seluruh mata uang Asia, termasuk won Korea Selatan dan baht Thailand.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan menguatnya dolar AS. Mata uang negara-negara Asia lain juga tertekan, sehingga ruang bagi rupiah untuk menguat menjadi sempit.
Suku Bunga The Fed Naik ke 3,75-4%
Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Suku bunga kini berada di kisaran 3,75-4%.
Kebijakan itu bersifat hawkish, artinya The Fed masih berfokus menekan inflasi ketimbang mendorong pertumbuhan. Dampaknya langsung terasa di pasar valuta asing.
Indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik ke 100,27. Penguatan indeks ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sulit menguat.
Won Korea hingga Baht Thailand Ikut Melemah
Di kawasan Asia, won Korea Selatan mencatat pelemahan paling tajam. Baht Thailand menyusul di posisi kedua, lalu rupiah di urutan ketiga.
Ringgit Malaysia, peso Filipina, yuan China, dolar Taiwan, dan yuan offshore juga melemah terhadap dolar AS. Hanya yen Jepang dan dolar Singapura yang berhasil menguat, meski terbatas.
Pelemahan serentak ini menunjukkan tekanan dolar AS tidak hanya dialami Indonesia, melainkan hampir seluruh kawasan.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Lagi Capai 50%
Pelaku pasar uang kini memperhitungkan seberapa cepat The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan. Ekspektasi itu muncul karena inflasi diperkirakan semakin meluas.
Pasar memperkirakan ada sekitar 50% peluang kenaikan suku bunga acuan pada Oktober. Angka ini menjadi acuan baru bagi investor dalam menempatkan dana.
Ketika peluang kenaikan suku bunga masih besar, dolar AS cenderung tetap kuat. Mata uang Asia, termasuk rupiah, berpotensi terus menghadapi tekanan jual.
Bagi pelaku usaha yang punya utang dalam dolar AS, pelemahan rupiah menambah beban biaya. Importir juga harus menyiapkan rupiah lebih banyak untuk pembelian bahan baku.
Sebaliknya, eksportir bisa memanfaatkan level rupiah saat ini untuk mendapat nilai lebih tinggi dari hasil penjualan ke luar negeri. Namun, gejolak kurs tetap menyulitkan perencanaan keuangan jangka pendek.
Pergerakan rupiah hari ini menunjukkan kebijakan moneter AS masih menjadi faktor utama yang menentukan arah mata uang Asia. Selama The Fed belum memberi sinyal pelonggaran, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum berakhir.