Santri Hafiz 30 Juz di Makassar Temukan Celah Keamanan Kritis Sistem NASA

Kamis, 17 September 2026 | 07:23:00 WIB

DINAMIKAUANG.COM — Muhammad Al Hindawi, santri penghafal 30 juz Alquran dari Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, menemukan celah keamanan tingkat kritis pada sistem NASA dan University of Melbourne. Temuan itu dilaporkan lewat Vulnerability Disclosure Program di platform Bugcrowd dan telah divalidasi tim keamanan siber kedua institusi.

Hindawi tercatat menemukan dua celah berjenis SQL Injection pada sistem NASA dan satu celah serupa pada sistem University of Melbourne. Seluruh temuan dilaporkan melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP) di platform Bugcrowd.

Tim keamanan siber NASA dan University of Melbourne memvalidasi laporan tersebut secara resmi. Atas kontribusinya, Hindawi menerima Letter of Recognition dari NASA dan konfirmasi validasi dari tim Cyber Operations University of Melbourne.

Dua Celah SQL Injection di Sistem NASA

SQL Injection merupakan jenis kerentanan yang memungkinkan penyerang menyusupkan perintah basis data melalui input yang tidak divalidasi. Celah ini tergolong kritis karena berpotensi membuka akses ke data sensitif jika dieksploitasi pihak tak bertanggung jawab.

Hindawi menemukan dua celah pada sistem NASA dan satu pada sistem University of Melbourne. Seluruh temuan itu dilaporkan melalui mekanisme resmi yang disediakan Bugcrowd, bukan lewat jalur ilegal.

Metode Pemetaan Subdomain hingga Uji Kerentanan

Hindawi menjelaskan tahapan identifikasi yang ia lakukan hingga menemukan kerentanan tersebut. "Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx," ungkapnya.

Setelah tahap pemetaan selesai, ia menyaring sistem untuk mencari kelemahan spesifik. "Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection," jelasnya.

Penguasaan teknik keamanan siber itu ia pelajari secara otodidak. "Saya baru sekitar empat hingga lima bulan mempelajari cybersecurity secara otodidak," kata Hindawi.

Rekam Jejak Dimulai dari Sistem Pesantren

Sebelum menembus sistem institusi global, Hindawi lebih dulu menemukan celah kerentanan pada sistem pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Temuan itu menjadi titik awal ketertarikannya mendalami keamanan siber.

Kemampuannya dikembangkan melalui video tutorial dan laporan riset para peneliti keamanan siber yang dipublikasikan di Bugcrowd. Ia memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran daring secara mandiri.

Hindawi kini masih terus mendalami teknik identifikasi kerentanan sistem. Jalur pembelajaran otodidak yang ia tempuh menunjukkan akses pengetahuan keamanan siber tidak selalu harus lewat pendidikan formal.

Terkini