Telkom Garap Jaringan Kabel Bawah Laut 545 Ribu Km, Incar Jadi Hub Asia-Pasifik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:13:00 WIB

DINAMIKAUANG.COM — Pernyataan itu disampaikan Dian di sela pembukaan Batic 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu. Menurutnya, krisis di Laut China Selatan hingga konflik Timur Tengah telah mengubah peta kebutuhan rute komunikasi data dunia. Negara-negara mulai mencari jalur yang lebih aman dan stabil, dan Indonesia menangkap peluang itu.

Koridor Strategis Pengganti Jalur Rawan Konflik

Telkom menerjemahkan strategi ini lewat proyek Kabel Ekspres Indonesia (ICE). Perusahaan membangun beberapa koridor utama yang memperkuat jalur inti intra-Asia, Trans-Pasifik, serta Asia-Eropa. Rencana ekspansi berikutnya mencakup koneksi Eropa-Timur Tengah-Afrika, Trans-Atlantik, dan Amerika Serikat-Amerika Latin.

“Tujuannya bukan sekadar membangun lebih banyak kabel, tapi menciptakan jaringan koridor strategis yang terintegrasi. Indonesia harus menjadi gerbang yang lebih kuat antara pasar Asia-Pasifik dan ekonomi digital global yang lebih luas,” ujar Dian.

CEO Telin, anak usaha Telkom, Abdul Rahman Ansyori menambahkan, dua situasi dunia justru membuka peluang besar bagi Indonesia. Pertama, kawasan Laut China Selatan yang rawan sengketa dan perang dagang. Kedua, eskalasi di Timur Tengah, termasuk ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah yang mengganggu jalur kabel konvensional.

Bifrost dan Ketertarikan Investor AS

Abdul mencontohkan proyek kabel Bifrost yang menghubungkan Manado ke Amerika Serikat. Proyek ini menarik minat perusahaan asing, termasuk dari AS, yang sengaja menghindari jalur Laut China Selatan. Ia juga menyoroti negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh yang biasanya mengandalkan jalur Eropa dan Timur Tengah untuk terhubung ke AS.

“Karena eskalasi di Timur Tengah, perairan Indonesia menjadi alternatif yang langsung terhubung ke benua Amerika. Itulah yang sedang kami bangun melalui ICE, menghubungkan semua kontinen sehingga ada rute baru yang memberikan daya tahan konektivitas global,” jelasnya.

Investasi Infrastruktur dan Skala Jaringan

Peluang ini diyakini akan menarik investasi besar. Sebab, pembangunan kabel bawah laut membutuhkan kolaborasi lintas negara, salah satunya melalui skema konsorsium. Telkom sendiri mengalokasikan sekitar 18-20 persen dari total pendapatan konsolidasi tahunan untuk investasi infrastruktur digital.

Hingga saat ini, Telkom tercatat memiliki 34 sistem kabel bawah laut internasional. Rinciannya, 12 kabel dibangun lewat konsorsium dan 22 kabel merupakan kepemilikan sendiri. Jaringan ini menopang total serat optik sepanjang 545.011 kilometer, terdiri dari 115.844 kilometer domestik dan 429.167 kilometer internasional.

Selain kabel, perseroan juga mengoperasikan 297.292 jaringan pemancar telekomunikasi, 44.799 tower, serta 36 pusat data global dan domestik. Kapasitas tiga satelit yang dimiliki mencapai 42,2 gigabit per detik (Gbps).

Diversifikasi jalur ini bukan sekadar menambah jumlah kabel. Bagi Telkom, ini adalah upaya membangun ketahanan infrastruktur digital nasional sekaligus menempatkan Indonesia di peta perdagangan data global yang selama ini didominasi Singapura dan Hong Kong.

Terkini