Kurs Rupiah Rabu Pagi Melemah ke Rp17.774, Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Biang Kerok

Kurs Rupiah Rabu Pagi Melemah ke Rp17.774, Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Biang Kerok

DINAMIKAUANG.COM — Melemahnya mata uang Garuda ini terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Rully Nova, analis Bank Woori Saudara, dalam keterangannya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu, menyebut perang harga minyak menjadi sentimen dominan yang membebani nilai tukar negara-negara importir, termasuk Indonesia.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.750 - Rp17.820 dipengaruhi oleh global masih berlanjutnya kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran," ujar Rully.

Eskalasi Serangan AS-Iran dan Dampaknya ke Harga Minyak

Ketegangan militer kembali memanas setelah Kantor Berita Rusia, Sputnik, melaporkan adanya serangan AS ke sebuah acara pernikahan di Iran yang menewaskan empat orang. Jika diakumulasikan dari total serangan di berbagai wilayah Iran, korban luka-luka mencapai 50 orang.

Konflik terbuka ini menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan dari salah satu kawasan penghasil minyak terbesar dunia. Imbasnya, harga komoditas energi melonjak dan mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Kian Tipis

Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Data inflasi AS yang meningkat membuat pasar kembali berekspektasi bank sentral AS akan mengetatkan kebijakan moneter lebih cepat.

Rully mengungkapkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September naik signifikan menjadi 66 persen, dibandingkan sebelumnya hanya 35 persen. Adapun besaran kenaikan yang diprediksi pasar adalah 25 basis poin (bps), yang akan membawa suku bunga acuan AS ke level 4 persen.

Sentimen Domestik: Surplus Menyempit dan Inflasi Terjaga

Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari data neraca perdagangan yang surplusnya semakin tipis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan barang Indonesia mencapai 3,70 miliar dolar AS pada periode Januari-Juli 2026. Tren ini dinilai mengurangi penyangga nilai tukar lantaran permintaan dolar untuk pembayaran impor masih tinggi.

Berbeda dengan itu, inflasi terpantau masih terkendali di tengah tekanan global. BPS melaporkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,21 persen pada Agustus 2026, sebuah angka yang masih dalam rentang normal dan tidak menambah beban signifikan bagi bank sentral.

Kombinasi faktor eksternal dan internal ini membuat pergerakan rupiah pada hari ini diperkirakan tetap volatil, dengan pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS selanjutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index