Inflasi Agustus Sentuh 3,19 Persen, Rupiah Tertekan ke Level Rp 17.763

Inflasi Agustus Sentuh 3,19 Persen, Rupiah Tertekan ke Level Rp 17.763

DINAMIKAUANG.COM — Ekonom dan pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menuturkan pelemahan rupiah terjadi di tengah berbaliknya laju inflasi bulanan. Pada Agustus 2026, inflasi month-to-month tercatat 0,21 persen, berbanding terbalik dengan deflasi 0,14 persen yang terjadi pada Juli lalu.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar tekanan harga tersebut. "Makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran memberi kontribusi paling tinggi terhadap kenaikan inflasi Agustus 2026," jelas Ibrahim kepada wartawan.

Ekspor Tetap Perkasa, Migas Masih Lesu

Di tengah gejolak kurs, denyut nadi perdagangan luar negeri Indonesia justru menunjukkan sinyal positif.

Nilai ekspor pada Juli 2026 mencapai US$26,22 miliar atau tumbuh 6,05 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh pengiriman komoditas nonmigas yang naik signifikan 6,84 persen menjadi US$25,45 miliar.

Catatan berbeda datang dari sektor migas. Ekspor migas justru terperosok 14,58 persen menjadi hanya US$0,79 miliar, seiring fluktuasi harga minyak mentah global yang masih terjadi.

Arah Baru Bank Indonesia di Bawah Gubernur Destry

Kebijakan moneter ke depan menjadi sorotan setelah Destry Damayanti resmi ditunjuk sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru. Dalam pandangan awalnya, ia optimistis ekonomi nasional akan tumbuh di kisaran 5,2 persen hingga 6 persen.

Bank sentral juga memasang target nilai tukar yang cukup lebar untuk tahun 2027, yakni di rentang Rp17.300 sampai Rp17.800 per dolar AS. Level ini masih di atas posisi kurs saat ini, mengindikasikan adanya ruang gejolak yang tetap dipantau ketat.

Untuk menjaga stabilitas, Destry berkomitmen memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga neraca pembayaran tetap sehat dan imbal hasil investasi yang menarik agar arus modal asing bertahan di pasar keuangan domestik.

Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjaga kecukupan cadangan devisa di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi negara berkembang.

Pelemahan rupiah kali ini mengingatkan bahwa belanja pangan domestik masih menjadi pekerjaan rumah utama pemerintah. Meski ekspor tumbuh, stabilitas harga kebutuhan pokok tetap penentu utama kekuatan daya beli masyarakat dan nilai tukar mata uang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index