DINAMIKAUANG.COM — Kenaikan IHSG pada Selasa kemarin ditopang derasnya aliran modal asing. BNI Sekuritas mencatat investor asing membukukan aksi beli bersih senilai Rp1,76 triliun, dengan target utama saham perbankan dan konsumer seperti BBRI, BBCA, BMRI, serta TPIA dan CPIN.
Namun, reli tersebut dinilai berisiko mengalami koreksi wajar hari ini. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.540–6.570 dan resistansi di level 6.620–6.700.
Konflik Timur Tengah dan Minyak Menekan Pasar Global
Sentimen negatif datang dari Amerika Serikat. Dow Jones Industrial Average ambles lebih dari 400 poin pada perdagangan Selasa waktu setempat, seiring melonjaknya harga minyak mentah WTI sebesar 5,2 persen dan Brent 4,6 persen sejak awal pekan.
Lonjakan ini dipicu pernyataan Komando Pusat AS bahwa pasukannya menyerang target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran. Kekhawatiran inflasi akibat mahalnya energi mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS naik, yang kembali memicu spekulasi soal sikap hawkish bank sentral AS, The Fed.
Tekanan serupa dirasakan bursa Asia. Hampir seluruh indeks utama ditutup melemah pada Selasa, kecuali Taiex Taiwan yang melesat 1,8 persen dan KOSPI Korea Selatan yang naik tipis 0,23 persen. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang turun 0,15 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,93 persen.
Dua Katalis yang Dinantikan Investor Pekan Ini
Pelaku pasar kini mengarahkan pandangan ke dua agenda penting. Pertama, pertemuan kebijakan The Fed yang dijadwalkan berlangsung dalam dua pekan mendatang, yang akan menentukan arah suku bunga acuan global.
"Di sisi lain, pasar masih menunggu laporan data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) Agustus yang akan dirilis pada Jumat mendatang," ujar Fanny. Data tersebut kerap menjadi acuan utama The Fed dalam mengambil keputusan.
Dari dalam negeri, Fanny juga mencermati rilis data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat mengalami inflasi 0,21 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Adapun inflasi tahunan mencapai 3,19 persen, meningkat dari posisi 2,88 persen pada bulan sebelumnya.
Angka inflasi yang sedikit meningkat ini akan menjadi bahan pertimbangan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengelola likuiditas pasar. Bagi investor ritel, kombinasi data inflasi domestik dan sinyal kebijakan The Fed akan menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa pekan ke depan.