JAKARTA — PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) melebarkan sayap di bisnis aluminium lewat fasilitas smelter yang dikelola oleh entitas anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Saat ini KAI sedang merancang persiapan aktivitas komersial dan skema penjualan seirama dengan penggenjot kapasitas produksi smelter.
Langkah ekspansi pada bisnis aluminium ini merupakan bagian dari taktik diversifikasi Grup Alamtri di luar sektor batu bara.
Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti memaparkan bahwa KAI senantiasa mematangkan kesiapan komersial serta operasional penjualan sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi.
“Saat ini PT KAI terus mempersiapkan kesiapan komersial dan kegiatan penjualan bersamaan dengan peningkatan kapasitas produksi untuk mendukung kontribusi operasional terhadap kinerja Grup AlamTri,” terangnya.
Fasilitas smelter KAI yang berlokasi di Kalimantan telah memasuki fase uji coba atau commissioning sejak Desember 2025. Berdasarkan riset KB Valbury Sekuritas, smelter tersebut bahkan sudah merealisasikan pengiriman komersial perdana menuju Amerika Serikat dan Korea Selatan pada Juni 2026.
KAI mematok target volume produksi smelter sanggup menyentuh 500.000 ton per tahun pada penutupan 2026. Eskalasi kapasitas tersebut bakal menjadi penentu utama besarnya kontribusi lini aluminium terhadap pencapaian kinerja ADMR.
Porsi kontribusi segmen aluminium terhadap total pendapatan konsolidasi ADMR diproyeksikan melonjak dari 43,9% pada 2026 menjadi 50,7% pada 2030.
Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi menaksir kontribusi smelter aluminium terhadap topline ADMR sanggup menembus US$900 juta pada 2026. Dalam jangka panjang, lini bisnis aluminium diprediksi bakal menjadi salah satu penopang utama pendapatan ADMR hingga 2030.
Proyeksi cerah ini mengemuka di tengah peta pasar aluminium global yang ditaksir mengalami defisit pasokan. Pasar aluminium dunia diperkirakan membukukan defisit berkisar 2,2 juta ton pada 2026 menyusul disrupsi produksi di kawasan Timur Tengah. Dinamika tersebut turut memberikan pengaruh signifikan pada pergerakan harga komoditas aluminium.
Harga rata-rata aluminium LME diproyeksikan berada pada kisaran US$3.577—US$3.750 per ton, serta berpeluang menembus US$4.150 per ton jikalau eskalasi konflik geopolitik terus berlanjut.
Pergerakan harga aluminium serta penggenjotan kapasitas produksi smelter merupakan variabel kunci yang memengaruhi besaran kontribusi bisnis aluminium terhadap pendapatan ADMR.
Garapan bisnis aluminium ini menjadi elemen penting dari diversifikasi bisnis Grup Alamtri di luar batu bara. Seiring peningkatan kapasitas produksi KAI, porsi kontribusi bisnis aluminium bagi kinerja ADMR diproyeksikan bakal makin dominan hingga 2030.
KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi BUY untuk saham ADMR dengan patokan target harga di level Rp2.100 per saham. Lembaga sekuritas tersebut juga memproyeksikan laba bersih ADMR sanggup tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) mencapai 24% sepanjang periode 2025—2030.