JAKARTA - Sejumlah saham terpantau mengalami koreksi secara signifikan sepanjang perdagangan pekan ini, di tengah pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dibayangi oleh sentimen dari laporan MSCI mengenai perlakuan terhadap saham Indonesia serta pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Saham PT Bersama Mencapai Puncak Tbk. (BAIK) memimpin daftar top losers setelah harganya anjlok sebesar 49,35% dalam sepekan, yakni dari level Rp770 menjadi Rp390 per saham. Selanjutnya, saham PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) terkoreksi 18,25% dari Rp570 menjadi Rp466 per saham.
Saham PT Multi Garam Utama Tbk. (FOLK) menyusul dengan penurunan sebesar 18,06% dari Rp216 menjadi Rp177 per saham. Sementara itu, PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS) melemah 17,70% dari Rp1.045 menjadi Rp860 per saham.
Berikut adalah daftar lengkap 10 saham dengan penurunan harga terbesar sepanjang pekan ini:
BAIK: turun 49,35%, dari Rp770 menjadi Rp390
BACH: turun 18,25%, dari Rp570 menjadi Rp466
FOLK: turun 18,06%, dari Rp216 menjadi Rp177
NSSS: turun 17,70%, dari Rp1.045 menjadi Rp860
VOKS: turun 15,56%, dari Rp270 menjadi Rp228
IKBI: turun 14,62%, dari Rp650 menjadi Rp555
KDTN: turun 13,55%, dari Rp428 menjadi Rp370
RODA: turun 13,51%, dari Rp74 menjadi Rp64
SHID: turun 13,01%, dari Rp615 menjadi Rp535
NTBK: turun 12,90%, dari Rp93 menjadi Rp81
Di tengah pelemahan sejumlah saham tersebut, IHSG ditutup pada level 6.401,888 pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026). IHSG tercatat melemah 0,12% atau terpangkas 7,762 poin apabila dibandingkan dengan posisi pada pekan sebelumnya yang berada di level 6.409,65.
Sentimen utama yang membayangi pasar pada pekan ini bersumber dari laporan MSCI perihal perlakuan terhadap saham Indonesia serta pidato Presiden Prabowo Subianto yang memuat berbagai asumsi dasar makroekonomi dalam RAPBN 2027.
Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menilai bahwa pidato Presiden Prabowo mencerminkan fokus kuat pemerintah terhadap upaya penguatan ketahanan pangan dan energi, pengawasan rantai pasok beserta ekspor komoditas, hingga reformasi badan usaha milik negara (BUMN).
Dari sudut pandang pasar modal, Andrey memproyeksikan bahwa dampak awal dari RAPBN 2027 terhadap pergerakan IHSG cenderung positif. Penetapan target defisit anggaran yang lebih rendah, status investment grade, serta kejelasan pipeline proyek dinilai mampu mendongkrak tingkat kepercayaan investor.
Adapun pemerintah mematok sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2027 sebesar 6%, yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan asumsi tahun 2026 sebesar 5,4%. Di samping itu, asumsi tingkat inflasi ditetapkan sebesar 2,5%, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dipatok pada level 6,9%, serta nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp17.500 per dolar AS.
Sebagai bahan perbandingan, asumsi dasar makroekonomi pada APBN 2026 mencakup pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%, inflasi 2,5%, suku bunga SBN tenor 10 tahun di level 6,9%, serta kurs rupiah senilai Rp16.500 per dolar AS.