Penurunan Rasio BOPO Dan CIR Menjadi Sinyal Efisiensi Kinerja Perbankan

Penurunan Rasio BOPO Dan CIR Menjadi Sinyal Efisiensi Kinerja Perbankan
Penurunan Rasio BOPO Dan CIR Menjadi Sinyal Efisiensi Kinerja Perbankan. (Foto: NET)

JAKARTA – Penurunan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dan Cost to Income Ratio (CIR) dinilai menjadi indikator kemampuan perbankan dalam mengelola struktur biaya dan meningkatkan produktivitas.

Analis dari Ajaib Sekuritas, Alvin Timothy mengatakan perbaikan kedua rasio tersebut menunjukkan bahwa perseroan semakin efisien dalam mengonversi pendapatan menjadi laba, sekaligus menjaga disiplin biaya di tengah dinamika industri perbankan.

"Efisiensi yang makin kuat dapat memberikan ruang bagi perbankan untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih optimal, termasuk untuk mempercepat transformasi digital, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan bisnis secara selektif," ujar Alvin dalam keterangannya.

Dia menambahkan kondisi tersebut juga menjadi fondasi penting bagi perseroan untuk menjaga profitabilitas dalam jangka panjang.

Alvin menyoroti efisiensi yang dilakukan PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS) pada semester I/2026. Perbaikan tersebut tecermin dari rasio BOPO yang turun ke level 88,42%. Peningkatan efisiensi tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan laba.

Berdasarkan laporan keuangan BWS, laba bersih perseroan naik menjadi Rp594,09 miliar pada semester I/2026, dibandingkan Rp82,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara, peningkatan efisiensi juga terlihat dari Cost to Income Ratio (CIR) yang turun menjadi 68,03% dari sebelumnya 80,16%. Perbaikan itu didukung oleh penurunan sejumlah komponen biaya.

Beban bunga BWS turun 15,45% secara tahunan menjadi Rp942,47 miliar dari Rp1,11 triliun. Efisiensi biaya ikut mendorong laba operasional BWS tumbuh 112,33% menjadi Rp233,80 miliar pada semester I/2026.

Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba operasional perseroan tercatat sebesar Rp110,11 miliar.

“Tren ini perlu dijaga melalui optimalisasi proses bisnis dan peningkatan produktivitas agar dapat memperkuat profitabilitas serta membuka ruang pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Pada sisi intermediasi, BWS membukukan penyaluran kredit sebesar Rp40,34 triliun hingga akhir Juni 2026. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp29,46 triliun.

Penghimpunan giro dan tabungan atau CASA meningkat 7,49% menjadi Rp8,46 triliun dari Rp7,87 triliun pada Desember 2025. Pertumbuhan tersebut mendorong rasio CASA terhadap DPK naik menjadi sekitar 28,72% dari sebelumnya 23,11%.

Selain efisiensi, indikator profitabilitas BWS turut menunjukkan perbaikan. Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 0,87% dari 0,38%, sementara Return on Equity (ROE) naik menjadi 11,52% dari sebelumnya 1,43%.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index