Kementan Targetkan Penerapan Budi Daya Padi PM-AAS Capai 1 Juta Hektare pada Tahun 2026 Ini

Kementan Targetkan Penerapan Budi Daya Padi PM-AAS Capai 1 Juta Hektare pada Tahun 2026 Ini
Kementerian Pertanian mematok sasaran penanaman padi lewat penerapan metode budi daya padi berbasis mekanisasi serta teknologi mutakhir atau Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) mencapai luas 1 juta hektare pada 2026. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Pertanian mematok sasaran penanaman padi lewat penerapan metode budi daya padi berbasis mekanisasi serta teknologi mutakhir atau Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) mencapai luas 1 juta hektare pada 2026.

Kepala Balai Besar Perakitan serta Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Kementan Amin Nur mengutarakan sebetulnya teknologi budi daya PM-AAS bukan temuan anyar, bahkan sering dipraktikkan petani.

Namun, lanjut dia di Jakarta, Kamis, ada sejumlah komponen yang dimasukkan agar penanaman padi petani lebih hemat dan berdaya guna, serta terjadi lonjakan hasil padi, menekan ongkos modal serta biaya produksi.

Melalui penerapan teknologi yang pas, ujarnya saat "Webinar: Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS)", penggarap lahan juga berpeluang mendulang hasil panen yang lebih maksimal serta profit yang lebih tinggi.

"Tahun ini kami harapkan penyebarannya bisa mencapai 1 juta ha dan secara bertahan tahun depan luasnya menjadi 3 juta ha," kata Amin Nur .

Diterangkannya, dalam pengelolaan PM-AAS ada enam prinsip pokok, Pertama, dengan metode tanam benih langsung tanaman lebih rapat dalam barisan.

Kedua, kehematan pemakaian air, pupuk dan komponen serta tepat sasaran, ketiga, pemanfaatan mekanisasi pertanian untuk mempercepat dan peningkatan efisiensi kerja, serta keempat, penerapan berbasis korporasi.

Prinsip kelima, tata kelola budi daya padi yang intensif untuk mencapai hasil maksimal dan keenam, spesifik lokasi. Penggunaan teknologi nantinya bisa disesuaikan karakteristik lahan serta agroekosistem setempat.

"PM-AAS ini menghadirkan sistem budi daya padi modern berbasis teknologi, presisi dan korporasi. Dengan PM AAS diharapkan akan terjadi peningkatan produksi, tapi biaya tidak terlalu besar," katanya.

Kepala Bagian Perencanaan serta Evaluasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementan Saptorini menuturkan keberhasilan teknologi budi daya padi PM-AAS tidak lepas dari andil penyuluh pertanian di lapangan.

"Peran penyuluh pertanian ini dari mulai persiapan, pelaksanaan hingga monitoring dan pengawalan kegiatan di lapangan," katanya.

Oleh sebab itu, imbuhnya, BPPSDMP menjalankan pendampingan serta pelatihan PM-AAS bagi penyuluh pertanian, selain itu pula menerbitkan modul pelatihan dan pendampingan budidaya padi PM-AAS yang mengacu pada petunjuk pelaksanaan dari BRMP.

Sesuai instruksi Menteri Pertanian, menurut dia, penyuluh pertanian memperoleh sasaran pendampingan lahan budi daya PM-AAS di Jawa, seluas 100 ha untuk setiap penyuluh serta di luar Jawa seluas 50 ha setiap penyuluh.

Sementara itu, SVP Indonesia Agrichemical Research Institute PT Pupuk Indonesia, Gita Bina Nugraha menyampaikan demi menyokong program PM-AAS, volume pupuk mencukupi guna mencukupi keperluan petani di dalam negeri. Total daya muat produksi pupuk urea sebanyak 9,4 juta ton, NPK 4,6 juta ton, pupuk lainnya sekitar 0,8 juta ton.

”Secara kapasitas produksi dan infrastruktur kami siap mendukung program pemerintah, swasembada pangan,” ujarnya.

Sementara persediaan pupuk bersubsidi per 3 Agustus sebanyak 1,076 juta ton yang tersebar di gudang serta distributor. Dengan volume tersebut cukup untuk mencukupi keperluan selama 36 hari dengan rata-rata penebusan harian sebanyak 30 ribu ton.

"Kami juga menyiapkan pupuk yang non subsidi dengan stok sebanyak 405.880 ton," ujar Gita dalam acara yang digelar Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia.

Sementara itu untuk pengawasan penyaluran pupuk subsidi, Pupuk Indonesia telah mempunyai sistem yang sudah terintegrasi yakni iPubers sehingga risiko keterlambatan bisa terdeteksi dengan cepat serta tepat.

Sedangkan dari sudut pandang perbenihan VP Supply Chain Management PT. Sang Hyang Seri, Dias Agriana memprediksi dengan keperluan benih 70 hingga 80 kg/ha maka pada 2026 hingga 2027 diperlukan benih padi sebanyak 50.066 ton untuk program PMAAS.

Sementara itu, tambahnya, ketersediaan benih PT SHS pada semester 2 tahun 2026 hanya 14.063 ton.

Dalam program PM-AAS, benih padi yang disarankan adalah tahan rebah, tahan hama daur bakteri, tahan blast serta mempunyai produktivitas hingga 10 ton/ha.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index