Berkah Kemarau, Perajin Batu Bata Madiun Genjot Kapasitas Produksi

Berkah Kemarau, Perajin Batu Bata Madiun Genjot Kapasitas Produksi
Musim kemarau panjang membawa berkah bagi perajin batu bata merah di Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. (Foto: NET)

JAKARTA - Musim kemarau panjang membawa berkah bagi perajin batu bata merah di Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Cuaca panas membuat proses pengeringan lebih cepat sehingga produksi batu bata merah bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan musim penghujan.

Jiman (75), salah satu perajin batu bata merah di Desa Glonggong, mengatakan teriknya matahari selama musim kemarau mempercepat proses pengeringan batu bata yang baru dicetak. Kondisi tersebut membuat kapasitas produksinya meningkat.

“Dibandingkan musim penghujan, produksi batu bata merah naik dua kali lipat pada musim kemarau karena cepatnya pengeringan,” kata Jiman, Senin (3/8/2026).

Jiman merupakan salah satu perajin batu bata merah yang masih bertahan di Kecamatan Dolopo. Ia menjalankan usaha tersebut secara turun-temurun dari keluarganya di tengah semakin sedikitnya perajin batu bata merah di Kabupaten Madiun.

Menurut Jiman, produksi batu bata merah sangat terbatas saat musim penghujan. Dalam satu kali pembakaran, ia paling banyak menghasilkan sekitar 6.000 batu bata. Sebaliknya, saat musim kemarau, produksi dapat mencapai dua kali lipat. 

Cuaca panas membuat batu bata yang baru dicetak lebih cepat kering sehingga proses pembakaran dapat dilakukan lebih sering.

“Kalau kemarau seperti ini kami bisa melakukan dua kali pembakaran. Kalau musim hujan ya paling hanya satu kali saja sekitar 6.000 biji,” tutur Jiman.

Proses produksi batu bata Jiman mengatakan, proses mencetak batu bata membutuhkan waktu sekitar tiga hari saat musim kemarau. Setelah kering, batu bata dikumpulkan untuk selanjutnya dibakar. Setelah jumlahnya mencapai sekitar 6.000 buah, batu bata disusun untuk kemudian dibakar selama lima hari lima malam.

Meski berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, Jiman masih menjual batu bata merah dengan harga Rp 750.000 per 1.000 buah.

“Harganya masih sama. Belum naik. Pembeli saya tidak hanya dari Madiun saja. Ada pelanggan yang datang dari Kabupaten Ponorogo,” jelas Jiman.

Menurut Jiman, musim penghujan menjadi tantangan tersendiri bagi perajin. Proses pencetakan kerap terhenti karena kondisi tanah menjadi licin. Biaya produksi juga dapat meningkat karena harga bahan bakar sekam berubah mengikuti musim.

Selain terkendala cuaca, konsumen yang ingin memesan batu bata dalam jumlah banyak juga harus bersabar. Pasalnya, jumlah perajin batu bata merah di Desa Glonggong semakin sedikit. Jiman menyebut saat ini hanya ada dua perajin batu bata merah yang masih bertahan di desanya.

“Makanya kalau pesan banyak ya harus sabar menunggu karena saya mengerjakan sendiri,” tutup Jiman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index