JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Desember 2025, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,63% yoy, meningkat dibandingkan November 2025 yang sebesar 7,74% yoy. Total penyaluran kredit mencapai Rp8.586 triliun, mencerminkan ekspansi yang cukup solid di sektor perbankan.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak 20,81% yoy. Kredit konsumsi tumbuh 6,58% yoy, sementara kredit modal kerja meningkat 4,52% yoy.
Kredit bank milik negara (BUMN) tumbuh 11,61% yoy. Sedangkan berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 15,44% yoy.
Likuiditas dan Dana Pihak Ketiga yang Menguat
Seiring meningkatnya penyaluran kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatat pertumbuhan solid 13,83% yoy menjadi Rp10.059 triliun. Peningkatan ini ditopang oleh giro naik 19,13% yoy, deposito 14,28% yoy, dan tabungan 8,19% yoy.
Likuiditas perbankan tetap berada pada level memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat 126,15%, sedangkan AL/DPK sebesar 28,57%, jauh di atas ambang batas minimal.
Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level tinggi 200,97%. Hal ini menegaskan kemampuan bank menjaga likuiditas dan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Profil Risiko dan Kualitas Kredit
Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan NPL gross sebesar 2,05% dan NPL net 0,79%. Tren Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan penurunan menjadi 8,77%, menandakan risiko kredit terkendali.
Rasio profitabilitas perbankan tercermin dari return on assets (ROA) 2,53%. Sedangkan permodalan kuat tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) 25,89%.
Proyeksi Pertumbuhan Kredit dan Ekonomi 2026
OJK optimistis tren pertumbuhan kredit dapat berlanjut pada 2026. Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, OJK memproyeksikan kredit perbankan tumbuh 10–12% tahun depan.
Dana Pihak Ketiga diproyeksikan meningkat 7–9% pada 2026. Hal ini menunjukkan kapasitas perbankan untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembiayaan pembangunan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan sektor jasa keuangan tetap solid di tengah meningkatnya multipolarisme kebijakan global sepanjang 2025. “Kalau kita melihat kondisi fundamental perekonomian dan juga kinerja sektor jasa keuangan sangat solid menjadi modalitas yang sangat penting untuk kelanjutan kita ke depan,” kata Friderica pada Kamis, 5 Februari 2026.
Kontribusi Perbankan Terhadap Pembangunan Nasional
Berbagai program prioritas pemerintah menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,11% pada 2025, tercermin dari capaian pembiayaan pembangunan Rp9.540 triliun oleh lembaga jasa keuangan, utamanya melalui kredit perbankan yang tumbuh 9,53%.
Indikator likuiditas, profil risiko, dan solvabilitas industri jasa keuangan tetap solid. Hal ini menunjukkan kapasitas sektor keuangan untuk terus mendukung pembiayaan pembangunan.
OJK bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Sinergi ini bersama seluruh pelaku industri jasa keuangan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian sektor.
Tantangan Global dan Ketahanan Industri Perbankan
Memasuki 2026, fragmentasi geopolitik dan geoekonomi memicu pergeseran kualitas perdagangan dan aliran modal global. Meski demikian, Indonesia dinilai tetap resilien dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun depan.
OJK menetapkan penguatan ketahanan sektor jasa keuangan sebagai fokus kebijakan utama. Tahun 2026 menjadi fase krusial dalam agenda pemenuhan modal minimum lembaga jasa keuangan untuk membentuk struktur industri yang lebih kuat dan kompetitif.
Dengan proyeksi pertumbuhan kredit perbankan dan likuiditas yang tinggi, sektor keuangan diperkirakan menjadi motor utama pembiayaan pembangunan nasional. Bank-bank di Indonesia memiliki kapasitas untuk menopang proyek-proyek investasi, memperkuat ekonomi domestik, dan menghadapi ketidakpastian global.