DINAMIKAUANG.COM — Sutradara Jerman Fatih Akin membuka Festival Film San Sebastian dengan Ghost Song, film cinta paranormal yang tayang perdana di Spanyol. Ini menjadi penampilan pertama Akin di festival tersebut sepanjang karier puluhan tahunnya, meski ia termasuk segelintir sineas yang pernah meraih hadiah kompetisi utama di Berlin, Cannes, dan Venesia. Ghost Song didistribusikan Warner Bros. lewat kesepakatan first-look yang diteken sejak 2022.
Keputusan festival mengangkat Akin terbilang mengejutkan. Pasalnya, ia sudah lama dikenal di sirkuit festival Eropa sebagai salah satu dari sedikit sutradara yang mengoleksi hadiah kompetisi utama di Berlin, Cannes, dan Venesia.
"Mereka sebelumnya menolak salah satu film saya," kata Akin sambil tersenyum kepada Deadline sebelum pemutaran.
Cinta yang Berlanjut di Alam Mimpi
Ghost Song ditulis Akin bersama Ruth Toma. Ceritanya mengikuti Farasha dan Faris, dua remaja yang bertemu di pesta kelulusan dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Farasha tiba-tiba meninggal malam itu juga. Kisah cinta paranormal pun bergulir: Farasha menemukan bahwa selama 40 malam ia bisa menemui Faris dalam mimpi, sampai malam terakhir mereka.
Film ini dibintangi Eren M. Güvercin, aktor kelahiran Jerman yang sudah malang melintang di televisi negaranya. Lawan mainnya, Mariam Dawoud, aktris kelahiran Suriah yang kini tinggal di Austria, menjalani debut layar lebar lewat peran ini.
Lahir dari Krisis Karier
Akin mengaku Ghost Song berangkat dari masa sulit dalam kariernya. Sekitar sepuluh tahun lalu ia menggarap film ambisius dan mahal, mengerjakannya bertahun-tahun, lalu gagal di box office.
"Saat mengalaminya, kamu meragukan segalanya: bakat, gaya hidup, semua," ujarnya. "Kamu hampir harus menemukan ulang dirimu."
Ia menolak menyebut judul film yang membuatnya jatuh. Namun kuat dugaan itu adalah The Cut (2014), yang menang di Venesia tetapi menuai penilaian terbelah dan kesulitan di pasar.
Dari titik itulah putranya melempar ide soal dua remaja. Akin membawa gagasan itu ke Toma, dan keduanya meramu cerita yang akhirnya jadi Ghost Song.
Pemain Utama Ditemukan lewat Media Sosial
Dawoud ditemukan lewat panggilan terbuka di media sosial. Pencarian itu mencari gadis penutur asli Arab untuk sebuah kisah cinta.
"Karena agama dan dunia konservatif saat ini, tidak banyak yang muncul," kata Akin. "Kami hanya melihat sekitar 20 orang, tapi Mariam langsung menguasai adegan itu."
Akin menyebut proses syuting Ghost Song sebagai yang paling rumit dalam kariernya. Ada adegan perairan terbuka berukuran besar yang harus digarap.
Dari Warna ke Hitam-Putih
Film ini awalnya direkam berwarna. Akin tak puas dengan hasil color grading di potongan awal, lalu memindahkannya ke hitam-putih di pascaproduksi.
"Saya sangat frustrasi. Semuanya pucat. Tidak ada yang bekerja secara konseptual," ujarnya. Ia lantas mengerjakan dua versi bersama sinematografer Frank Griebe, warna dan hitam-putih.
"Saya jauh melebihi anggaran," canda Akin. Ia menyebut kedua versi film akan tetap didistribusikan.
Rencana ke Depan
Setelah ini, Akin ingin menjauh dari produksi besar yang rumit. Ia menyebut industri film selalu bicara soal uang, tapi ia mempertanyakan arahnya.
"Saya mencari kebenaran, dan itu tidak datang dari anggaran yang lebih tinggi," katanya. Ia mengaku ingin bekerja dengan cara lebih sederhana, seperti yang dulu dilakukan John Cassavetes.
Ghost Song akan didistribusikan Warner Bros. di bawah kesepakatan first-look Akin dengan studio tersebut. Ia mengaku tak terlalu khawatir dengan gejolak merger Warner dan Paramount yang tengah berlangsung.
"Mereka partner yang hebat," kata Akin. Ia menyebut Warner telah memproduksi film-film penting seperti Casablanca, Dog Day Afternoon, dan Mean Streets.
Akin juga sudah menyiapkan proyek berikutnya, meski belum mau bicara banyak soal detailnya.