DINAMIKAUANG.COM — Amerika Serikat telah menghabiskan dana sekitar USD 38,1 miliar dalam perang melawan Iran, namun gagal mencapai tujuan strategis utamanya. Serangan balasan Iran dan proksinya justru melumpuhkan jalur pelayaran global serta memicu krisis energi dunia. Presiden Donald Trump mengklaim perang hampir berakhir, tetapi kondisi di lapangan menunjukkan eskalasi yang semakin tidak terkendali.
Sejak operasi militer besar-besaran diumumkan pada akhir Februari lalu, pemerintahan Presiden Donald Trump menargetkan penghancuran kemampuan proksi Iran di kawasan. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa kelompok-kelompok yang didukung Teheran, seperti Houthi di Yaman, justru memperluas kendali wilayah mereka. Hal ini secara langsung membantah klaim keberhasilan militer yang disampaikan Gedung Putih.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, sebelumnya menyatakan bahwa operasi bertujuan menghancurkan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya. Pernyataan tersebut kini berbenturan dengan kenyataan di lapangan, di mana militer AS justru tersebar tipis dan menghadapi kerentanan serius.
Pengeluaran Perang dan Beban Fiskal Washington
Angka estimasi biaya perang yang mencapai USD 38,1 miliar menjadi sorotan utama para pengkritik kebijakan luar negeri AS. Dana sebesar itu dikeluarkan tanpa hasil yang sepadan dengan tujuan awal invasi. Alih-alih melumpuhkan Teheran, militer AS justru terjebak dalam konflik berkepanjangan yang tidak populer di kalangan pemilih Amerika.
Ketidakpuasan terhadap perang ini mulai merambah ke Kongres. Sejumlah anggota Partai Republik dilaporkan mulai memberikan suara untuk mengakhiri konflik. Bahkan, seorang anggota kongres dari Partai Republik telah mengajukan langkah pemakzulan terhadap Menteri Pertahanan Pete Hegseth terkait penanganan perang tersebut.
Keberhasilan Iran Lumpuhkan Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb
Poin paling krusial dari kegagalan strategis AS adalah kemampuan Iran dalam menutup jalur pelayaran internasional. Selat Hormuz, yang sebelumnya terbuka, kini menjadi pusat pertempuran yang membuktikan bahwa Teheran mampu menghentikan arus perdagangan global untuk jangka panjang. Kemampuan ini sebelumnya hanya menjadi klaim verbal Iran, namun kini telah terbukti secara nyata.
Dampak dari penutupan Selat Hormuz memaksa perhatian beralih ke Selat Bab el-Mandeb. Kelompok Houthi di Yaman memanfaatkan situasi ini dengan melakukan ofensif besar-besaran di sepanjang pantai Laut Merah. Mereka berhasil menguasai kota pelabuhan Mocha dan pulau-pulau strategis seperti Perim, yang secara efektif memberi mereka kendali atas jalur penghubung Laut Merah ke Teluk Aden.
Penguasaan Houthi atas Bab el-Mandeb memperparah krisis energi yang dipicu oleh perang. Sebelumnya, Teheran dan Houthi telah memperingatkan bahwa jalur pelayaran tersebut akan ditutup jika AS melanjutkan agresi. Peringatan itu kini terbukti nyata, dengan konsekuensi langsung terhadap lonjakan harga minyak dunia.
Risiko Perang Saudara Yaman dan Serangan Infrastruktur Minyak
Ketegangan di Yaman meningkat tajam setelah Houthi dan Arab Saudi kembali saling baku tembak. Konflik ini membangkitkan kembali permusuhan lama yang sempat mereda sejak gencatan senjata tahun 2022. Kekhawatiran kini muncul bahwa Yaman akan kembali masuk ke dalam perang saudara skala penuh.
Arab Saudi juga terpaksa menutup sementara pipa minyak East-West sepanjang 750 mil pekan lalu. Pipa tersebut rusak akibat serangan drone yang dituduhkan Riyadh kepada militan yang didukung Iran di Irak. Belum ada kejelasan kapan pipa strategis itu dapat kembali beroperasi normal.
Gregory Brew, analis senior di Eurasia Group, menilai kegagalan AS dalam mencapai tujuan strategisnya tidak terbantahkan. "Jika Anda memutar kembali waktu ke bulan Februari dan melihat apa yang dinyatakan AS ingin lakukan, tidak terbantahkan bahwa AS gagal dalam tujuan strategis utamanya," ujarnya kepada Foreign Policy.
Meskipun Trump pada hari Rabu menyatakan harapan bahwa perang akan segera berakhir dan Iran ingin membuat kesepakatan, optimisme tersebut tidak didukung oleh bukti di lapangan. Hingga kini, tidak ada indikasi kuat bahwa Teheran bersedia bernegosiasi, sementara pertempuran justru semakin meluas di seluruh kawasan.