150 Juta Data SIM dan Paspor Bocor dari Layanan Verifikasi ID

Kamis, 03 September 2026 | 11:42:00 WIB

DINAMIKAUANG.COM — Peristiwa ini terungkap setelah jurnalis keamanan independen Brian Krebs menemukan situs bernama Nexus yang mengklaim memiliki basis data 150 juta foto SIM dan paspor. Nexus mengaku menambah sekitar 500 ribu dokumen baru setiap hari dari satu perusahaan verifikasi identitas besar, memberi kesan peretas punya akses langsung ke sistem korban secara real-time.

Apa Isi Klaim Nexus?

Unggahan promosi Nexus di forum kejahatan siber Rusia menyebut "foto pelanggan ditampilkan jika tersedia". Krebs memverifikasi langsung kebenaran data itu: foto SIM miliknya sendiri ditemukan dalam database yang bisa dicari.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga masuk daftar orang yang datanya terpajan di situs pencari identitas tersebut. Juru bicara Departemen Pertahanan AS mengatakan kepada TechCrunch bahwa pihaknya "mengetahui laporan ini dan sedang mengevaluasinya".

Mengapa IDScan Dianggap Sumber Kebocoran?

Dengan bantuan peneliti keamanan Zach Edwards yang juga jadi korban, Krebs mengidentifikasi sumber dugaan pembocor: IDScan. Perusahaan yang berbasis di Louisiana ini dipakai sejumlah merek teknologi dan konsumen besar untuk memverifikasi puluhan juta dokumen identitas setiap bulan di seluruh dunia.

CEO IDScan Jimmy Roussel belum memberi tanggapan. Namun COO Jillian Kossman menyatakan kepada Krebs bahwa perusahaan sedang melakukan investigasi internal. Kantor FBI New Orleans dilaporkan turut menyelidiki kasus ini.

Siapa yang Paling Berisiko Terdampak?

Model bisnis verifikasi identitas membuat jutaan orang terpajan risiko ini. Setiap kali pengguna menyerahkan SIM, paspor, atau dokumen negara lain untuk verifikasi—saat sewa mobil, transaksi di gerai, atau modernisasi layanan digital—data itu tersimpan di server pihak ketiga.

Warga Kanada dan AS disebut sebagai korban utama. Meski belum ada indikasi data pengguna Indonesia ikut bocor, insiden ini jadi pengingat bagi pasar lokal yang makin sering memakai layanan verifikasi identitas untuk fintech, e-commerce, dan sektor perhotelan.

Apa Akar Masalah Keamanannya?

Kebocoran ini terjadi di tengah dorongan global mewajibkan verifikasi usia berbasis dokumen. Regulasi semacam itu menuntut orang dewasa mengunggah dokumen identitas untuk membuktikan usia sebelum mengakses situs atau aplikasi tertentu.

Pakar keamanan dan advokat privasi sudah lama memperingatkan risiko menyimpan dokumen identitas dalam jumlah besar untuk waktu lama. Semakin banyak perusahaan menyimpan data sensitif, semakin besar peluang peretas mengambilnya—terutama jika sistem verifikasi terhubung langsung ke aliran data baru setiap hari seperti yang diklaim Nexus.

Nexus sendiri sudah tidak bisa diakses sejak laporan Krebs tayang. Sampai berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari IDScan soal jumlah pasti korban atau mekanisme peretasan.

Terkini