Perluas Bisnis Non-Batu Bara, ADRO Bidik Penguatan Kinerja Jangka Panjang

Selasa, 01 September 2026 | 23:20:32 WIB
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) mulai melebarkan sumber pertumbuhan bisnis di luar sektor batu bara seiring dengan pengembangan lini mineral dan aluminium oleh Grup Alamtri.

Langkah diversifikasi tersebut merupakan bagian dari strategi Grup Alamtri untuk memperbesar sumbangsih bisnis non-batu bara, di tengah masih dominannya kontribusi sektor pertambangan terhadap kinerja ADRO.

Pada semester I/2026, ADRO membukukan pendapatan usaha senilai US$999,24 juta, menguat 16,51% secara tahunan dari posisi US$857,69 juta. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meroket 76,83% menjadi US$309,37 juta dari perolehan US$174,94 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ditinjau dari sisi segmen, bidang pertambangan masih menjadi penyumbang utama dengan pendapatan di luar segmen sebesar US$580,39 juta. Sementara itu, jasa pengolahan pertambangan memberikan kontribusi US$397,30 juta.

Di luar ranah bisnis batu bara, Grup Alamtri menggarap bisnis mineral melalui PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), mencakup batu bara metalurgi hingga proyek aluminium via PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Smelter aluminium milik KAI telah memasuki tahap pengetesan atau commissioning sejak Desember 2025.

Berdasarkan hasil riset KB Valbury Sekuritas, smelter tersebut sudah mengeksekusi pengiriman komersial perdana menuju Amerika Serikat dan Korea Selatan pada Juni 2026.

KAI mematok target kapasitas produksi smelter mampu menyentuh 500.000 ton per tahun pada penutupan 2026. Porsi kontribusi segmen aluminium terhadap total pendapatan konsolidasi ADMR diproyeksikan merangkak naik dari 43,9% pada 2026 menjadi 50,7% pada 2030.

Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi menaksir kontribusi smelter aluminium terhadap topline ADMR sanggup menembus angka US$900 juta pada 2026. Dalam jangka panjang, lini bisnis aluminium diproyeksikan menjelma sebagai salah satu pilar utama pendapatan ADMR hingga 2030.

Sementara itu, sektor bisnis batu bara metalurgi ADMR turut mencatatkan tren pertumbuhan pada semester I/2026. Perolehan pendapatan usaha ADMR naik 31,52% menjadi US$583,88 juta, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terangkat 23,97% menjadi US$174,18 juta.

Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti menilai prospek jangka panjang batu bara metalurgi masih ditopang oleh tingginya permintaan dari China dan India. Australia diperkirakan tetap bertahan sebagai pemasok utama batu bara metalurgi di pasar global.

Dirinya menjabarkan khusus pasar India, permintaan diproyeksikan terus melonjak seiring dengan agenda ekspansi kapasitas industri baja di negara tersebut.

“Sepanjang 2026 ini, dalam menghadapi dinamika dan tantangan pasar, perseroan tetap mengedepankan disiplin biaya untuk menjaga kinerja,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (31/8/2026).

Di lain pihak, langkah diversifikasi bisnis Grup Alamtri bergulir ketika sektor batu bara masih menjadi penopang utama pendapatan grup. Performa ADRO beserta entitas anak usahanya masih dipengaruhi oleh pergerakan harga serta fluktuasi permintaan batu bara global. Prospek harga batu bara menjadi salah satu indikator penting dalam mencermati kinerja Grup Alamtri ke depan.

KB Valbury Sekuritas menilai harga batu bara masih berpeluang mendapatkan topangan dari ketidakpastian pasokan energi global.

Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi memaparkan ketidakpastian pasokan energi dari kawasan Timur Tengah serta fenomena gelombang panas El Nino yang mengerek permintaan listrik dapat memberi daya dukung terhadap harga batu bara.

Di samping itu, dinamika geopolitik global turut berpotensi mendorong beberapa negara Eropa untuk kembali menyalakan pembangkit listrik berbasis batu bara guna mencukupi kebutuhan energi, terutama saat permintaan listrik melonjak di musim dingin.

“Untuk grup Adaro [Alamtri] sendiri kami perkirakan kinerjanya ke depan masih akan cukup baik. Prospek batu bara kami rasa cukup bagus saat ini,” kata Adolf.

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyematkan rekomendasi BUY untuk saham ADRO dengan patokan target harga di level Rp2.500 per saham. Kinerja ADRO ke depan diprediksi akan dipengaruhi oleh pergerakan bisnis batu bara sekaligus progres pengembangan bisnis baru Grup Alamtri, mencakup lini mineral dan aluminium.

Terkini

2.242 Peserta Siap Ikuti MTQ Nasional di Semarang

Selasa, 01 September 2026 | 01:06:02 WIB

7 Trik Menyegarkan Rambut Berkeringat Tanpa Keramas

Selasa, 01 September 2026 | 01:02:33 WIB

SATUSEHAT RME Perkuat Pembiayaan Berbasis Nilai BPJS Kesehatan

Selasa, 01 September 2026 | 00:53:02 WIB

Baznas RI Gelar Pelatihan Pijat Syariah di Tangerang

Selasa, 01 September 2026 | 00:50:02 WIB