DINAMIKAUANG.COM — Bencana banjir yang melanda Nepal dan wilayah Tibet telah menimbulkan korban jiwa besar. Data terakhir mencatat lebih dari 900 orang meninggal dunia, sementara sekitar 4.200 orang dinyatakan hilang. Angka ini menjadikan peristiwa tersebut sebagai salah satu bencana alam terdahsyat yang melanda kawasan Himalaya dalam beberapa dekade terakhir.
Skala Dampak dan Upaya Pemulihan
Di Devighat, sebuah kawasan yang terdampak parah, warga yang selamat mulai kembali ke lokasi tempat tinggal mereka. Pemandangan yang mereka hadapi tak jauh dari kehancuran total. Rumah-rumah tertutup lumpur tebal, dan berbagai perabotan rumah tangga berserakan bercampur puing bangunan.
Seorang warga setempat menggambarkan kondisinya dengan nada putus asa. "Nothing is usable," ujarnya saat menyisir sisa-sisa rumahnya. Ia menyampaikan bahwa hampir seluruh barang miliknya telah rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Aktivitas penyelamatan barang oleh warga ini kini mewarnai kawasan Devighat, yang sebelumnya terisolasi akibat putusnya akses jalan.
Warga Bertahan di Tengah Puing
Proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan oleh tim penyelamat, namun fokus warga yang kembali perlahan beralih pada upaya memulihkan kehidupan. Mereka membersihkan lumpur dari dalam rumah dan mencari peralatan dapur atau dokumen penting yang masih bisa diselamatkan.
Banjir yang dipicu oleh hujan ekstrem ini tidak hanya meluluhlantakkan permukiman di Nepal, tetapi juga berdampak di seberang perbatasan di Tibet. Data korban gabungan dari kedua wilayah menunjukkan skala bencana yang sangat luas, menuntut respons kemanusiaan yang besar dari pemerintah setempat maupun organisasi internasional.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian korban hilang masih berjalan. Pemerintah Nepal sendiri belum merilis pernyataan resmi terbaru mengenai total kerugian material akibat bencana ini, namun kebutuhan mendesak warga kini meliputi hunian sementara, air bersih, serta makanan dan layanan kesehatan.