JAKARTA - Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) membuka peluang pembelajaran sejarah untuk siswa dibuat dalam bentuk permainan (gim) atau berbagai format digital lainnya supaya tetap relevan dan menyenangkan.
"Kami melihat bahwa anak-anak sekarang jarang yang bawa buku, tetapi lebih sering gawai atau handphone (HP), jadi kebayang kalau ada pembelajaran sejarah gitu harus bawa buku, kan sudah tidak sesuai ya, bagaimana caranya belajar tetap dengan buku, tetapi digital atau formatnya bukan buku, melainkan gim, cerita, film dan sebagainya. Gim itu juga salah satu model yang sangat menarik," ucap Kepala ANRI Mego Pinandito dalam forum "Arsip Goes to School" di Jakarta, Kamis.
Mego mencontohkan, gim tentang sejarah dapat ditampilkan dalam bentuk tantangan-tantangan menjawab peristiwa secara kronologis agar siswa bersemangat menyelesaikannya.
"Misalnya cerita Diponegoro itu mulai dari tahun 1825-nya seperti apa, terus kalau itu dimasukkan dalam sebuah runutan kronologis sebuah gim, ujung-ujungnya sudah tahun 1830. Itu model-model yang tentu tidak hanya teman-teman di ANRI, tetapi juga teman-teman di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen)," tutur dia.
Mego mengemukakan, format pembelajaran dapat dibedakan sesuai jenjang usia, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP sampai SMA.
"Kalau perlu kami undang juga dari misalnya ahli-ahli informasi dan teknologi (IT), teman-teman yang memang hebat menyusun sebuah gim, jadi model-model seperti itu, untuk yang PAUD, SD, hingga SMA. Jadi tidak hanya melulu dengan dua kementerian/lembaga ini, antara ANRI dan Kemendikdasmen, tetapi juga mungkin kami lebarkan lagi," paparnya.
ANRI turut menanti masukan dari para guru sejarah guna merancang model pengajaran yang sesuai dengan tingkat pendidikan siswa. Jika sudah tersusun, ANRI bakal menyiapkan arsip serta dokumen autentik mengenai sejarah yang hendak diangkat ke dalam model pembelajaran tersebut.
"Kami bisa melihat dari apa yang sudah ada. Saya membayangkan sesuatu yang mungkin misal dulu fotonya satu dalam satu buku gitu, ada cerita Revolusi Perancis, fotonya cuma satu atau dua, atau cerita Diponegoro, mungkin tidak pakai foto, padahal ada foto yang ilustrasi, lukisan, dan lain sebagainya. Jadi, kalau memang nantinya dari sisi ANRI, bisa memberikan beragam arsip yang terkait dengan sejarah, ya itu yang akan kami angkat bersama-sama," paparnya.
ANRI juga bakal menyediakan opsi bagi Kemendikdasmen untuk menentukan narasi sejarah mana yang paling tepat serta menarik untuk diubah menjadi model pembelajaran digital interaktif.
"Kami akan terus berdiskusi, mana yang tepat dan mana yang kemudian ibu/bapak guru sejarah itu juga merasa bahwa ceritanya menarik, Itu juga penting. Jadi, tidak bisa hanya dari ANRI, tetapi ternyata tidak pas dengan kebutuhan dalam konteks pendidikan atau pengajaran sejarah. Saya pikir itu nanti kolaborasinya," pungkasnya.