Rupiah Diprediksi Melemah Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan AS

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:01:01 WIB
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa. (Foto: NET)

JAKARTA - Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa memperkirakan mata uang garuda melemah seiring para pelaku pasar menantikan publikasi data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS).

“Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

Selain daripada itu, ungkapnya kembali, tensi geopolitik yang tidak pasti di kawasan Timur Tengah masih memicu tingginya permintaan terhadap dolar AS sebagai instrumen safe haven, alhasil memberikan tekanan terhadap berbagai mata uang emerging markets, mencakup pula rupiah.

Berdasarkan tinjauan atas sentimen internal, pasar terpantau mengamati pengumuman Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) periode Juni 2026 yang merekam defisit lebih minim dari proyeksi, serta tingkat inflasi bulan Juli yang terjaga pada koridor target Bank Indonesia.

Pada hari ini, dirinya menuturkan bahwa fokus para investor akan terarah pada pengumuman Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk kuartal II-2026.

“Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid,” ujar Amru.

Dalam rentang waktu singkat, nilai tukar rupiah diproyeksikan berfluktuasi pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Kendati tekanan dari luar negeri masih mendominasi, potensi koreksi diperkirakan cenderung terbatas berkat topangan inflasi dalam negeri yang stabil, prospek ekspansi ekonomi yang cerah, serta determinasi Bank Indonesia dalam mengawal stabilitas nilai tukar.

Ke depan, ia menegaskan bahwa pergerakan rupiah amat ditentukan oleh hasil rilis PDB nasional hari ini serta indikator ketenagakerjaan AS menjelang akhir pekan.

“Jika PDB Indonesia lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah masih berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi tersebut,” kata dia pula.

Terkini