Strategi Brand Lokal Hadirkan Kesan Premium Tanpa Mahal

Strategi Brand Lokal Hadirkan Kesan Premium Tanpa Mahal
Ilustrasi - Konsep Affordable Luxury. (Foto: NET)

JAKARTA — Barang dengan banderol terjangkau kini tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai opsi kelas dua. Di tengah masyarakat yang kian selektif dalam berbelanja, usaha lokal justru mempunyai peluang besar guna menghadirkan pengalaman berkelas tanpa harus mematok tarif setinggi barang mewah. 

Tren tersebut tampak dalam pertumbuhan konsep kemewahan terjangkau, manakala pembeli memburu komoditas yang mengusung visual menarik, mutu tinggi, jati diri kuat, serta menyajikan pengalaman khas, tetapi tetap berada dalam batasan anggaran yang bersahabat.

Pengajar Fakultas Bisnis Universitas Multimedia Nusantara, Trihadi Pudiawan Erhan, mengemukakan bahwa daya tarik kemewahan terjangkau timbul akibat adanya titik temu antara kemampuan finansial serta impian gaya hidup. 

"Kemewahan terjangkau menjawab kebutuhan tersebut dengan menawarkan desain, kemasan, cerita, kualitas, atau pengalaman yang menyerupai produk mewah pada tingkat harga yang masih dapat dijangkau," tutur Trihadi, Selasa (28/7/2026). 

Menurutnya, pembeli bukan sekadar membelanjakan uang untuk barang, melainkan turut memburu nilai lambang yang sanggup mencerminkan kepribadian mereka.

Oleh sebab itu, suatu komoditas tidak cukup hanya mengandalkan tarif murah agar mampu masuk dalam kategori tersebut. Pelaku usaha perlu lebih menonjolkan sisi eksklusif daripada sekadar memamerkan harga miring. 

Apabila unsur keterjangkauan terlalu sering digaungkan, produk justru rentan dinilai sebagai barang murahan atau bentuk kompromi dari barang mewah. 

"Pesan yang dibangun sebaiknya bukan 'produk murah yang terlihat mewah', melainkan 'produk premium yang masih dapat dijangkau'," ungkap Trihadi.

Citra istimewa tersebut dapat dibentuk melalui mutu barang, visual, kemasan, narasi merek, pelayanan, hingga pengalaman konsumen. Langkah serupa turut diterapkan oleh Eboni Watch, merek jam tangan lokal yang memandang produknya bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan perlengkapan mode. 

Pendiri sekaligus pemilik Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya, menyatakan bahwa mayoritas pelanggan meminang produknya karena terpikat oleh tampilan jam tersebut. 

"Yang dibeli Eboni itu adalah memperlakukan jam Eboni sebagai aksesori fashion, aksesori untuk tampil, untuk fashion statement. Jadi sudah bukan lagi soal fungsinya sebagai jam tangan melihat waktu. Itu kemudian jadi tujuan sekundernya," jelas Afidha, Kamis (30/7/2026).

Menurut Afidha, Eboni merajut identitas lewat visual yang feminin, bentuk melengkung, serta pemakaian corak yang berani dan semarak. Kendati demikian, fungsi utama tetap menjadi pilar penting. 

Afidha menuturkan bahwa pihaknya berupaya menyuguhkan nilai tambah melalui fitur tahan air pada seluruh koleksi serta layanan purnajual yang prima. 

"Jadi orang enggak cuma dapat fashionablenya, tapi juga dapat secara fungsi, secara ketahanan itu oke," imbuhnya.

Selaras dengan hal tersebut, Trihadi berpandangan bahwa selepas memenuhi standar minimum mutu, visual, kemasan, pelayanan, dan pengalaman, sebuah jenama wajib mempunyai jati diri yang tegas. Ia menyebut unsur siapa dan mengapa sebagai komponen krusial dalam membentuk persepsi berkelas. 

Unsur siapa tidak terbatas pada sasaran pembeli berdasarkan umur atau penghasilan, melainkan mencakup karakter yang ingin dipancarkan oleh pemakainya. 

Sementara itu, unsur mengapa menguraikan alasan suatu merek layak dinilai istimewa, mencakup nilai, sumber inspirasi, sudut pandang, hingga pengalaman yang hendak diberikan kepada pelanggan.

Hal itu menjelma sebagai salah satu kekuatan yang dicoba dirintis oleh Eboni. Afidha mengutarakan bahwa Eboni tidak hanya membawa ciri khas produknya, tetapi juga kisah mengenai tempat jenama tersebut bermula, yakni di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. 

"Kami bisa bertumbuh dan berkembang di desa dengan segala macam potensinya. Kami keluarkan dengan konten-konten yang memperlihatkan kalau Eboni itu brand yang bukan dari kota besar, tapi dari desa," ucap Afidha. 

Berdasarkan pandangannya, narasi tersebut bertransformasi menjadi bagian dari jiwa Eboni yang membersamai setiap produknya.

Di samping jati diri, taktik kerja sama dan pembatasan ketersediaan turut mendongkrak nilai simbolis suatu komoditas. Trihadi memaparkan bahwa edisi terbatas, sinergi, serta tingkat kelangkaan mampu memunculkan kesan eksklusif sebab tidak semua orang berkesempatan memilikinya. 

Afidha menuturkan bahwa Eboni turut mengaplikasikan metode serupa dengan menggandeng berbagai pihak yang mempunyai karakter kuat, seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, produk perawatan kulit, film Jumbo, serta majalah Bobo.

Bagi Afidha, kemitraan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada lonjakan angka penjualan. 

"Kalau ngomongin kolaborasi, sebenarnya yang dikejar bukan penjualan, tapi branding. Bagaimana kita bisa dikenal orang lain," paparnya. 

Cara tersebut juga dijalankan dengan membatasi titik sebaran atau jalur niaga untuk lini tertentu, sehingga eksklusivitas merek kian terjaga.

Pergeseran pola perilaku masyarakat turut tecermin dari langkah pusat perniagaan. Chief Commercial Officer PT Lippo Malls Indonesia, Rita Yovita, mencatat adanya kenaikan pada segmen kemewahan terjangkau, mencakup sajian kuliner premium serta busana. 

Pengunjung kini bertambah cermat sebelum bertransaksi dengan melakukan telaah, membandingkan banderol, serta memburu komoditas yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. 

"Jadi mal bukan lagi sekadar tempat untuk bertransaksi, tapi semakin menjadi destinasi untuk experience," tutur Rita, Rabu (29/7/2026).

Peluang kemewahan terjangkau di tanah air dinilai masih membentang luas, khususnya bagi usaha lokal yang cakap menawarkan keunikan. 

Para peminat kini tidak lagi sekadar menimbang tarif, melainkan memburu karya yang berkarakter. Dengan demikian, konsep ini membuktikan cara jenama lokal merajut nilai melalui perpaduan rupa, fungsi, karakter, pengalaman, serta eksklusivitas demi memuaskan konsumen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index