JAKARTA — PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I/2026, yang ditopang oleh performa kuat pada lini bisnis pertambangan serta jasa pengolahan pertambangan.
Berdasarkan laporan keuangan interim perseroan, perolehan pendapatan usaha ADRO pada semester I/2026 mencapai US$999,24 juta atau setara dengan kisaran Rp17,84 triliun (menggunakan estimasi kurs Rp17.857,14 per dolar AS).
Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 16,51% jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang bernilai US$857,69 juta atau sekitar Rp15,32 triliun.
Penguatan pendapatan tersebut secara langsung mendongkrak perolehan laba bruto perseroan. Tercatat, laba bruto ADRO naik menjadi US$422,68 juta atau sekitar Rp7,55 triliun, melesat dari posisi sebelumnya yang berada di angka US$284,27 juta atau sekitar Rp5,08 triliun pada periode yang serupa.
Sementara itu, besaran laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sukses menyentuh angka US$309,37 juta atau setara dengan Rp5,52 triliun pada semester I/2026.
Perolehan laba bersih ini meroket hingga 76,83% apabila dikomparasikan dengan perolehan semester I/2025 yang tercatat sebesar US$174,94 juta atau sekitar Rp3,12 triliun.
Dinamika positif tersebut turut terefleksi pada indikator laba per saham dasar serta dilusian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Nilainya mengalami kenaikan menjadi US$0,01074, dari yang sebelumnya hanya berada di level US$0,00587 pada semester I/2025.
Jika ditinjau berdasarkan segmen operasionalnya, sektor pertambangan masih mendominasi sebagai penyumbang terbesar bagi pendapatan ADRO. Kontribusi dari segmen pertambangan di luar segmen tercatat sebesar US$580,39 juta pada semester I/2026.
Berikutnya, lini segmen jasa pengolahan pertambangan memberikan andil pendapatan sebesar US$397,30 juta, sedangkan segmen-segmen lainnya menyumbang total US$21,56 juta.
Apabila dihitung secara keseluruhan dengan memperhitungkan pendapatan antarsegmen, total pendapatan lini pertambangan mencapai US$581,81 juta dan jasa pengolahan pertambangan berada di angka US$470,82 juta.
Setelah dikurangi eliminasi pendapatan antarsegmen senilai US$82,25 juta, total pendapatan konsolidasian ADRO resmi terkunci pada angka US$999,24 juta.
Meninjau dari laporan posisi keuangan atau neraca, total aset yang dimiliki ADRO per 30 Juni 2026 terpantau berada di level US$7,80 miliar atau setara dengan Rp139,37 triliun, yang menunjukkan pertumbuhan dari posisi akhir Juni 2025 sebesar US$6,82 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas perseroan turut mengalami kenaikan menjadi US$2,68 miliar atau sekitar Rp47,81 triliun, berbanding US$1,81 miliar atau sekitar Rp32,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Komponen liabilitas tersebut terdiri atas liabilitas jangka pendek senilai US$910,09 juta serta liabilitas jangka panjang sebesar US$1,77 miliar.
Adapun total ekuitas yang dibukukan oleh ADRO mencapai angka US$5,13 miliar atau sekitar Rp91,56 triliun, mengalami penguatan dari posisi semester I/2025 yang bernilai US$5,00 miliar atau sekitar Rp89,36 triliun.