DINAMIKAUANG.COM — Ketegangan geopolitik dan perang dagang yang dipicu kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) ternyata tidak selalu berdampak negatif bagi perbankan. Bagi CIMB Niaga, kondisi ini justru membuka peluang peningkatan kebutuhan pembiayaan perdagangan, terutama dari sisi impor.
Direktur Business Banking CIMB Niaga, Rusly Johannes, mengungkapkan bahwa kinerja trade finance perseroan hingga paruh pertama 2026 masih menunjukkan tren positif. Namun, ia mengakui ada dinamika yang berbeda antara transaksi impor dan ekspor.
"Di tengah ketidakpastian global dan domestik yang masih tinggi, bisnis trade finance CIMB Niaga masih menunjukkan tren yang positif, meskipun dengan dinamika yang berbeda antara transaksi impor dan ekspor," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (28/8/2026).
Impor Jadi Motor Pertumbuhan, Ekspor Melambat
Kenaikan biaya bahan baku dan kebutuhan modal kerja yang lebih besar mendorong importir untuk mencari dukungan pembiayaan tambahan. Hal inilah yang menjadi pendorong utama melonjaknya kredit impor CIMB Niaga hingga 39 persen secara tahunan.
Di sisi lain, kinerja transaksi ekspor justru mulai menghadapi tantangan sejak kuartal II-2026. Perlambatan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian permintaan global, volatilitas harga komoditas, serta penyesuaian pelaku usaha terhadap kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
"Pertumbuhan transaksi ekspor diperkirakan lebih moderat sebagai dampak implementasi kebijakan DHE SDA dan ketidakpastian global yang masih berlanjut," kata Rusly.
Strategi CIMB Niaga: Fokus ke Pembiayaan Domestik dan Digitalisasi
Melihat kondisi tersebut, CIMB Niaga memilih untuk mengarahkan fokus pertumbuhan bisnis trade finance ke segmen yang masih memiliki ruang berkembang. Bank bersandi saham BNGA ini memproyeksikan pertumbuhan ke depan akan lebih banyak ditopang oleh pembiayaan impor dan trade finance domestik.
Aktivitas nasabah di sektor pengolahan dan manufaktur dinilai menjadi sumber pertumbuhan potensial. Untuk menangkap peluang itu, perseroan akan mengandalkan pembiayaan modal kerja serta pembiayaan rantai pasok.
"Pertumbuhan bisnis trade finance ke depan diproyeksikan akan lebih ditopang oleh pembiayaan impor, trade finance domestik, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan rantai pasok," jelas Rusly.
Selain memperkuat sisi pembiayaan, CIMB Niaga juga gencar mendorong digitalisasi layanan trade finance. Langkah ini diambil untuk meningkatkan efisiensi proses sekaligus memperbaiki kualitas layanan bagi nasabah di tengah tekanan aktivitas perdagangan global.
Dengan strategi tersebut, bank berharap peluang pertumbuhan trade finance tetap terbuka lebar, terutama dari meningkatnya kebutuhan pembiayaan importir serta aktivitas perdagangan dan manufaktur di dalam negeri.