5 Tips Mengelola Stres Agar Tubuh dan Pikiran Pulih Menurut Pakar

5 Tips Mengelola Stres Agar Tubuh dan Pikiran Pulih Menurut Pakar
Ilustrasi Stres [FOTO: NET].

JAKARTA - Beban pekerjaan yang menumpuk, berbagai masalah keluarga, hingga persoalan finansial kerap kali bertindak sebagai pemicu utama timbulnya stres di tengah rutinitas kehidupan sehari-hari. Pada situasi tertentu, tekanan hidup tersebut bahkan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang tanpa disadari oleh yang bersangkutan.

Seorang psikiater di bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa secara biologis organ tubuh dan pikiran manusia sebenarnya tidak bekerja secara terpisah. Ketika seseorang mendadak mengalami stres, bagian otak akan langsung mengaktifkan poros hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis serta sistem saraf simpatis.

Selanjutnya, tubuh merespons dengan memproduksi bermacam-macam hormon serta mediator stres, yang meliputi hormon kortisol dan katekolamin. Pada kasus stres akut, respons biologis tersebut merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang normal serta bersifat adaptif.

Akan tetapi, apabila kondisi stres terus menerus berlanjut dalam durasi yang lama, proses regulasi kortisol, keseimbangan sitokin, respons inflamasi, hingga kinerja sel-sel imun tubuh dapat mengalami pergeseran fungsi.

Oleh sebab itu, upaya mengelola stres tidak sekadar bertujuan demi menciptakan ketenangan di dalam pikiran saja, melainkan menjadi komponen esensial dalam menjaga kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh.

Dokter Lahargo menegaskan bahwa esensi dari pengelolaan stres bukanlah berarti seseorang harus berambisi melenyapkan seluruh beban tekanan yang ada dalam kehidupannya.

“Stres adalah bagian normal kehidupan. Yang perlu dikembangkan adalah kemampuan tubuh dan pikiran untuk pulih setelah menghadapi stres,” ujar dr. Lahargo, baru-baru ini.

Berikut ini adalah beberapa metode sehat yang dapat diterapkan guna membantu tubuh serta pikiran agar mampu pulih kembali dari himpitan tekanan:

Jaga Tidur Tetap Cukup dan Teratur Kualitas waktu tidur sering kali menjadi aspek pertama yang dikorbankan manakala seseorang sedang dihadapkan pada banyak masalah pelik. Padahal, pemenuhan durasi tidur yang cukup serta teratur memegang peranan krusial dalam proses pemulihan fisik.

Saat dilanda stres, seseorang bisa saja mendadak mengalami gangguan susah tidur (insomnia) atau justru sebaliknya, yakni tidur dengan durasi yang jauh lebih panjang dari biasanya.

Apabila pola tersebut terus berlanjut tanpa perbaikan, kondisi itu justru kian mempersulit tubuh untuk memulihkan diri. Karenanya, usahakan senantiasa menjaga kedisiplinan jadwal tidur dan bangun di waktu yang relatif konsisten, serta berikan jeda istirahat bagi fisik selepas beraktivitas seharian.

Tetap Aktif Bergerak Melakukan aktivitas fisik terbukti ampuh menjadi salah satu alternatif penyembuhan untuk mengendalikan stres. Ragam kegiatan ini tidak mesti selalu berwujud porsi latihan olahraga berintensitas berat.

Pilihan gerakan sederhana seperti berjalan kaki santai, bersepeda, melakukan sesi peregangan otot ringan, ataupun berolahraga sesuai batas kapasitas kemampuan tubuh sudah sangat memadai.

Hal yang paling utama adalah memastikan agar aktivitas fisik tersebut dijalankan selaras dengan kondisi kesehatan masing-masing individu dan tidak malah berubah menjadi sumber tekanan baru.

Belajar Mengenali dan Mengekspresikan Emosi Mengelola stres bukan berarti seseorang boleh bersikap menyepelekan atau mengabaikan gejolak emosi yang tengah dirasakan. Setiap orang perlu belajar mengidentifikasi secara jujur apakah dirinya sedang dilanda rasa marah, kesedihan, kekecewaan, ketakutan, atau merasa kewalahan.

Selepas berhasil mengenalinya, luapan emosi tersebut dapat disalurkan melalui mekanisme yang sehat. Sebagian orang mungkin terbantu lewat kegiatan menulis jurnal harian, mencurahkan isi hati kepada sosok terpercaya yang aman, melakukan latihan teknik pernapasan, relaksasi otot, hingga meditasi mindfulness.

Mengekspresikan emosi juga tidak selalu mengharuskan seseorang menceritakan seluruh problemanya kepada khalayak luas. Poin terpentingnya adalah agar seseorang tidak terus-menerus memendam atau mengabaikan apa yang sedang berkecamuk di dalam batinnya.

Tetap Terhubung dengan Orang Lain Tatkala menghadapi masa-masa penuh tekanan, seseorang kerap kali berniat menarik diri dari interaksi lingkungan sosial sekitar. Padahal, jalinan dukungan sosial justru bisa menjadi sumber energi penguat yang sangat berarti ketika seseorang melewati fase sulit dalam hidupnya.

Berbincang dengan anggota keluarga, sahabat karib, pasangan hidup, atau figur yang dipercaya dapat membantu meringankan beban psikologis sehingga seseorang merasa tidak sedang berjuang sendirian.

Bentuk dukungan sosial ini pun tidak melulu harus berupa solusi instan atas masalah yang dihadapi. Terkadang, kehadiran seseorang yang tulus bersedia mendengarkan keluh kesah saja sudah terbukti cukup melegakan.

Berikan Waktu untuk Pulih Di tengah ritme kesibukan harian yang padat, alokasi waktu untuk beristirahat sering kali dipandang sebelah mata dan dianggap tidak penting. Padahal, tubuh dan pikiran mutlak memerlukan ruang kesempatan untuk memulihkan stamina usai bekerja keras menghadapi tekanan eksternal.

Luangkanlah waktu khusus guna melakoni kegiatan hobi yang mampu membuat fisik serta mental menjadi lebih rileks. Bentuk aktivitas ini tentu bisa berbeda pada setiap orang, mulai dari membaca buku, berjalan-jalan santai menikmati udara luar, berkumpul bersama keluarga tercinta, hingga sekadar mengambil jeda sejenak dari rutinitas harian yang menjemukan.

Di samping itu, penerapan pola asupan gizi seimbang, menghentikan kebiasaan merokok, serta membatasi konsumsi minuman beralkohol juga menjadi bagian tak terpisahkan dari ikhtiar menjaga kesehatan secara komprehensif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index