Pasar Modal Injak 49 Tahun, BEI Diminta Jangan Cuma Tambah Produk Baru

Pasar Modal Injak 49 Tahun, BEI Diminta Jangan Cuma Tambah Produk Baru
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik. (Foto: NET)

JAKARTA - Tepat tanggal 10 Agustus 2026, bursa saham tanah air memperingati 49 tahun diaktifkannya kembali transaksi efek, sekaligus mengawali babak baru pengembangan instrumen penanaman modal tahun ini. 

Peristiwa itu diwarnai dengan peluncuran ETF emas oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dihadirkan sebagai opsi tambahan instrumen finansial serta bagian dari taktik pendalaman bursa efek Nusantara. 

Di sela-sela peluncuran barang baru itu, BEI mencatat sejumlah pencapaian sepanjang tahun berjalan. Tetapi, performa pasar ekuitas masih menghadapi hambatan seiring pergerakan global dan fluktuasi IHSG.

Per tanggal 7 Agustus 2026, kapitalisasi bursa BEI tercatat sebesar Rp 11.212 triliun, sementara rata-rata nilai transaksi harian saham menyentuh Rp 22,3 triliun. 

IHSG mengalami koreksi 25,87% secara year-to-date. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengutarakan, bursa efek Indonesia senantiasa memperlihatkan ketahanan kendati menghadapi tekanan dan rintangan sepanjang tahun berjalan hingga menjelang peringatan 49 tahun.

“Dari segala tekanan dan tantangan yang kita hadapi sepanjang tahun 2026 ini, pasar kita pada saat ini masih membukukan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 11.200 triliun, dan ini masih menempatkan Indonesia,” katanya dalam konferensi pers, Senin (10/8/2026).

Selain transaksi saham, BEI konsisten memperluas jangkauan instrumen hingga bertransformasi menjadi bursa multi-aset, dengan perdagangan surat utang, reksa dana, derivatif, karbon, serta instrumen berbasis logam mulia dan instrumen lainnya.

“Dengan peluncuran ETF emas, tentu juga semakin membukukan posisi Bursa Efek Indonesia sebagai Bursa Multi Asset atau Multi Asset Plus Exchange, yang kita tidak hanya memperdagangkan produk ekuitas tetapi juga surat utang,” jelas Jeffrey.

Penerbitan ETF emas tersebut selaras dengan agenda pendalaman bursa BEI yang mencakup kreasi produk dan layanan anyar pada rentang waktu 2026–2028, mencakup efek digital dan electronic gold receipt.

Dari ranah pengumpulan dana, BEI telah mencatat tujuh IPO baru hingga 7 Agustus 2026 dengan total 962 emiten terdaftar. Penghimpunan dana lewat pasar modal mencapai Rp 124,2 triliun. 

Sementara itu, pangkalan investor pasar modal pun terus menanjak signifikan. Sampai 7 Agustus 2026, jumlah investor menggapai 30,274 juta atau bertambah sekitar 9,9 juta pemodal baru sepanjang tahun berjalan. 

Jeffrey menegaskan, beragam pengembangan tersebut merupakan elemen dari strategi BEI untuk mengejar sasaran jangka panjang hingga 2030. Bursa menargetkan lonjakan skala sekaligus mutu pasar modal Indonesia.

“Secara kualitatif di tahun 2030 Bursa Efek Indonesia harus menjadi bursa kelas dunia, yang tentunya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Dan tentu itu ada beberapa target kualitatif yang sudah kami tetapkan,” katanya.

Adapun BEI mematok target kapitalisasi pasar mencapai Rp 30.000 triliun pada 2030, dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp 31 triliun, lebih dari 1.100 emiten terdaftar serta 35 juta investor pasar modal.

Walau demikian, perluasan produk wajib diimbangi penguatan permintaan. Analis Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy berpandangan banyaknya instrumen belum tentu membuat bursa semakin dalam apabila keperluan pemodal belum teruji.

“Inovasi produk tetap perlu, tetapi BEI jangan terlalu supply-driven. Banyaknya produk tidak otomatis membuat pasar semakin dalam. Yang lebih penting adalah apakah ada kebutuhan investor,” jelasnya, Senin (10/8/2026).

Menurut Budi, kemanjuran ETF emas tetap bertumpu pada keperluan investor, kesiapan market maker, serta kecukupan likuiditas. Produk tersebut berpotensi maju karena emas telah dikenal luas masyarakat.

“Market validation sangat penting karena produk baru tidak otomatis meningkatkan partisipasi investor. BEI perlu memastikan siapa calon pengguna, kebutuhannya, biaya yang dapat diterima, serta potensi AUM dan transaksinya,” tuturnya.

Analis Pasar Modal Hendra Wardana menyatakan BEI harus memperkuat market validation sebelum merilis produk anyar, dengan mengukur calon pemakai, keperluan, potensi transaksi, likuiditas, serta kesiapan ekosistem pendukung.

“Ukuran keberhasilan sebuah produk tidak berhenti pada berapa banyak instrumen yang berhasil tercatat di bursa, tetapi seberapa aktif produk tersebut diperdagangkan dan mampu memberikan manfaat bagi investor,” ujar Hendra.

Menurutnya, basis investor Indonesia telah masif sehingga tantangan berikutnya bukan sekadar menambah rekening, melainkan mengatrol mutu keikutsertaan, likuiditas, investor institusi, pemodal asing, dan aktivitas perdagangan.

Serupa, Analis Pasar Modal Irwan Ariston melihat masih ada jurang pemisah antara pasokan instrumen dan permintaan pemodal. Produk baru mesti mempunyai keunggulan dibanding opsi penanaman modal yang telah ada.

“ETF emas misalnya, secara konsep menarik, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada apakah investor melihat produk tersebut memberikan value yang lebih baik dibandingkan alternatif investasi emas lainnya,” kata Irwan.

Dia menuturkan market validation wajib dijalankan sebelum BEI mendorong produk anyar, mencakup menguji sasaran pemodal, keperluan, potensi permintaan, serta kecakapan produk tersebut menciptakan likuiditas di bursa efek.

“Menambah jumlah produk tidak otomatis meningkatkan jumlah investor maupun transaksi. Yang lebih penting adalah menciptakan produk yang benar-benar digunakan dan dibutuhkan investor,” ujar Irwan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index