BNI Sekuritas

BNI Sekuritas Prediksi IHSG Tahun 2026 Bisa Capai Level Tertinggi dan Terendah Menarik

BNI Sekuritas Prediksi IHSG Tahun 2026 Bisa Capai Level Tertinggi dan Terendah Menarik
BNI Sekuritas Prediksi IHSG Tahun 2026 Bisa Capai Level Tertinggi dan Terendah Menarik

JAKARTA - PT BNI Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di kisaran 9.200 hingga 10.800 selama satu tahun ke depan. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menyampaikan, valuasi pasar saham domestik saat ini tergolong masih murah secara historis.

Menurut Fanny, rasio price to earnings (PE) dan price to book value (PBV) menunjukkan IHSG berada di level menarik. Posisi PE saat ini mendekati minus dua standar deviasi di bawah rata-rata historisnya.

IHSG Masih Menarik Dibanding Obligasi

Fanny menilai indikator earning yields spread terhadap obligasi menunjukkan saham lebih menarik dibanding instrumen pendapatan tetap. Hal ini memberi peluang aliran dana investor mengalir ke pasar saham domestik.

"Dari segi PE maupun PBV, valuasi IHSG masih cukup murah. Posisi PE saat ini hampir tidak pernah terlihat dalam hampir 20 tahun," ujarnya dalam BNI Sekuritas Ramadan Market Update di Jakarta Pusat.

Target IHSG Tahun Ini

BNI Sekuritas menargetkan IHSG berada di level 9.200 untuk skenario base case. Sementara untuk bull case, IHSG diperkirakan bisa mencapai 10.800 dalam setahun ke depan.

Penetapan target ini menggunakan pendekatan valuasi pasar. Perbandingan dengan obligasi menunjukkan peluang investasi di saham tetap lebih menjanjikan.

Valuasi Sektor Saham Domestik

Mayoritas sektor di Bursa Efek Indonesia saat ini cenderung diperdagangkan dengan valuasi relatif murah. Fanny menyebut sebagian sektor berada di bawah minus satu standar deviasi dari rata-rata historisnya.

Sektor komoditas dan konsumer menjadi yang paling menarik secara valuasi. Hal ini menunjukkan peluang bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio di sektor-sektor bernilai murah.

Potensi Aliran Dana ke Pasar Saham

Earnings yield spread over bond menunjukkan bahwa investasi di saham relatif lebih menarik dibandingkan obligasi. Kondisi ini berpotensi menarik minat investor untuk memindahkan dana dari instrumen pendapatan tetap ke pasar saham.

Fanny menekankan, tren valuasi saham yang murah memberikan kesempatan bagi investor jangka panjang. Strategi ini dapat memaksimalkan potensi keuntungan seiring pergerakan IHSG yang cenderung naik.

Strategi Investor Menghadapi Tahun 2026

Investor disarankan memanfaatkan valuasi murah sebagai peluang entry point di pasar saham. Penempatan dana pada sektor dengan valuasi di bawah rata-rata historis berpotensi memberikan return optimal.

Selain itu, diversifikasi antar sektor tetap penting. Dengan begitu, risiko dapat dikendalikan meski pasar mengalami volatilitas.

Sektor Saham yang Layak Diperhatikan

Fanny menyebut sektor komoditas memiliki prospek menarik karena harga komoditas global relatif stabil. Sektor konsumer juga dianggap potensial karena permintaan domestik masih kuat.

Valuasi di bawah minus satu standar deviasi menandakan saham-saham tersebut diperdagangkan lebih murah dari rata-rata historisnya. Investor dapat memanfaatkan momentum ini untuk akumulasi saham jangka menengah hingga panjang.

Peluang Investasi Tahun Ini

BNI Sekuritas menilai IHSG masih memiliki ruang pertumbuhan dari level saat ini. Proyeksi 9.200–10.800 menunjukkan adanya potensi upside yang signifikan bagi investor yang cermat.

Dengan valuasi saham yang relatif murah dan peluang aliran dana ke pasar saham, tahun 2026 menjadi waktu strategis untuk investasi jangka menengah dan panjang. Investor disarankan tetap memantau indikator makro dan valuasi sektoral untuk pengambilan keputusan optimal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index