Batu Bara

Harga Batu Bara Global Kembali Melejit Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Krisis Energi Dunia

Harga Batu Bara Global Kembali Melejit Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Krisis Energi Dunia
Harga Batu Bara Global Kembali Melejit Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Krisis Energi Dunia

JAKARTA - Harga batu bara global kembali menjadi sorotan pada awal Maret 2026. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan gas yang memicu kekhawatiran terhadap krisis energi dunia.

Kontrak batu bara April ditutup pada Kamis, 5 Maret 2026, di posisi US$135,25 per ton. Angka ini naik 1,7% setelah sehari sebelumnya turun 3,7%.

Harga batu bara sempat menyentuh level US$138 per ton pada Selasa, menandai posisi tertinggi sejak November 2024. Kenaikan ini menunjukkan pengaruh langsung dari fluktuasi harga energi global terhadap batu bara.

Dampak Lonjakan Harga Minyak dan Gas Terhadap Batu Bara

Harga batu bara kembali melesat Kamis kemarin karena harga minyak dan gas juga melonjak. Minyak WTI naik 8% sementara gas Eropa naik 1%, mendorong permintaan batu bara sebagai bahan bakar pengganti.

Batu bara menjadi alternatif utama ketika harga minyak dan gas tinggi. Kenaikan harga energi fosil lainnya biasanya memicu lonjakan harga batu bara karena meningkatnya mekanisme fuel switching.

Lonjakan kali ini dipicu penghentian operasi di fasilitas gas alam cair (LNG) Qatar. Gangguan ini meningkatkan kebutuhan peralihan bahan bakar di sektor pembangkit listrik global.

Serangan drone Iran terhadap pusat ekspor LNG Qatar memicu ketegangan di Timur Tengah. Fasilitas tersebut memasok sekitar 20% kebutuhan LNG global dan belum pernah sepenuhnya berhenti dalam 30 tahun sejarahnya.

Dengan banyak negara Asia bergantung pada LNG Qatar, Taiwan mempertimbangkan meningkatkan produksi listrik berbasis batu bara. Gangguan pasokan yang berkelanjutan mendorong negara-negara untuk mengubah strategi energi mereka.

Ketegangan Timur Tengah Mendorong Kekhawatiran Pasokan Energi

Harga minyak juga naik karena serangan Israel ke Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan. Investor khawatir konflik dapat meluas dan mengganggu produksi maupun distribusi energi global.

Wilayah Teluk sangat penting bagi pasar energi dunia. Ketegangan militer di kawasan ini sering langsung memicu volatilitas harga minyak global.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama pelaku pasar. Jalur laut strategis ini dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia, dan gangguan kecil dapat memicu lonjakan harga minyak global.

Reli Harga Batu Bara dan Dampaknya pada Saham Energi

Di India, saham Coal India melonjak lebih dari 4% pada Kamis, 5 Maret 2026. Lonjakan ini mengikuti reli harga batu bara global di tengah ketegangan geopolitik.

Permintaan domestik yang meningkat dan premi kuat pada lelang elektronik mendorong potensi laba perusahaan. Setiap kenaikan INR 100 per ton pada harga realisasi e-auction diperkirakan menaikkan laba per saham sekitar 2%.

Harga batu bara termal di Eropa mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023. Sementara termal Afrika Selatan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024.

Batubara uap Northwest Europe naik 16% menjadi US$133,18 per ton. Dalam satu minggu saja, harga meningkat hingga 26%, mencerminkan tekanan pasar akibat gangguan pasokan energi.

Analis memperkirakan penghentian produksi LNG Qatar akan mendorong peralihan konsumsi gas ke batu bara. Pergeseran ini diharapkan menopang harga batu bara global dalam jangka pendek.

Pasar Batu Bara Kokas di China dan Tantangan Pemulihan

Pasar batu bara kokas di China mulai menunjukkan tanda pemulihan. Namun, pemulihan masih lambat karena kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih.

Permintaan dari pabrik kokas yang meminta penurunan harga menekan sentimen pasar. Kenaikan harga batu bara terbatas karena permintaan industri baja dan kokas masih lemah.

Setelah Festival Lantern pada 3 Maret 2026, sebagian besar tambang di China kembali beroperasi normal. Namun, penjualan batu bara belum pulih sepenuhnya karena permintaan masih rendah.

Persediaan coking coal di tambang meningkat karena pengiriman tidak secepat produksi. Keadaan ini menunjukkan pasar masih kelebihan pasokan relatif terhadap permintaan.

Fenomena kelebihan pasokan pernah terjadi sebelumnya ketika stok batu bara meningkat sementara permintaan melemah. Kondisi ini menandakan pasar sedang lesu dan kenaikan harga terbatas.

Meskipun permintaan global meningkat akibat ketegangan geopolitik, pasar domestik China tetap menjadi faktor pembatas. Industri baja dan kokas belum sepenuhnya meningkatkan konsumsi batu bara.

Dengan kombinasi ketegangan di Timur Tengah dan kelebihan pasokan di China, harga batu bara mengalami fluktuasi yang signifikan. Lonjakan ini menunjukkan bahwa pasar energi dunia masih sangat sensitif terhadap faktor geopolitik dan pasokan.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik dan risiko pasokan dapat memicu peralihan energi secara global. Investor dan pelaku industri perlu menyesuaikan strategi agar tetap menghadapi volatilitas pasar.

Kondisi saat ini menegaskan bahwa batu bara tetap menjadi salah satu sumber energi strategis di tengah krisis energi global. Lonjakan harga juga menekankan peran penting batu bara sebagai substitusi minyak dan gas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index