JAKARTA - Pergerakan harga minyak global kembali mencuri perhatian investor karena fluktuasi signifikan yang memengaruhi harga bensin dan solar domestik pada 26 Februari 2026. Lonjakan persediaan minyak mentah AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika pasar.
Harga minyak mentah Brent pada pukul 04.30 pagi tanggal 26 Februari 2026 (waktu Vietnam) tercatat $70,71 per barel, turun 0,08% atau setara $0,06 per barel. Sementara itu, harga WTI berada di $65,36 per barel, turun 0,41% atau $0,27 per barel.
Faktor Penyebab Penurunan Harga Minyak
Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah meningkat sebesar 16 juta barel pekan lalu. Angka ini jauh melampaui perkiraan sebelumnya yang hanya 1,5 juta barel, sehingga menekan harga minyak secara global.
Meskipun demikian, analis komoditas Giovanni Staunovo menilai dampak penurunan harga minyak terhadap pasar akan terbatas. Faktor geopolitik, terutama ketegangan antara AS dan Iran, tetap menjadi penggerak utama harga minyak.
Sebelumnya, Brent dan WTI sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan tahun 2025. Lonjakan tersebut dipicu pengerahan pasukan militer AS di Timur Tengah untuk menekan Iran agar menghentikan program nuklir dan rudal balistiknya.
Konflik yang berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan dari Iran, produsen minyak mentah ketiga terbesar OPEC, serta negara-negara Timur Tengah lainnya. Hal ini membuat investor tetap waspada terhadap volatilitas harga di pasar global.
Negosiasi dan Kebijakan OPEC+
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu delegasi Iran di Jenewa pada Kamis mendatang. Pemerintah Iran menekankan kesepakatan hanya bisa dicapai jika diplomasi menjadi prioritas utama.
Di sisi penawaran, OPEC+ diperkirakan akan mempertimbangkan peningkatan produksi sebesar 137.000 barel per hari pada bulan April 2026. Rencana ini dimaksudkan untuk menutup jeda produksi selama tiga bulan sekaligus menghadapi puncak permintaan musim panas.
Arab Saudi juga menyiapkan rencana darurat untuk meningkatkan produksi dan ekspor minyak jika serangan AS mengganggu aliran minyak dari Timur Tengah. Hal ini menjadi langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas pasar energi global.
Selain itu, kebijakan tarif global yang diterapkan AS turut menambah tekanan psikologis pada investor. Tarif 10% yang mulai berlaku resmi pada 25 Februari 2026 dapat meningkat menjadi 15% tanpa kepastian waktu atau cakupan penerapan.
Harga BBM Domestik 26 Februari 2026
Harga bensin dan solar domestik ditetapkan mulai pukul 15.00 pada 20 Februari 2026. Selama periode ini, harga bensin E5RON92 turun 200 VND/liter menjadi 18.634 VND/liter, sedangkan bensin RON95-III turun 146 VND/liter menjadi 19.152 VND/liter.
Sementara itu, harga solar 0,05S naik 62 VND/liter menjadi 18.525 VND/liter, minyak tanah naik 103 VND/liter menjadi 18.615 VND/liter, dan bahan bakar minyak 180CST 3,5S naik 293 VND/kg menjadi 15.862 VND/kg.
Kementerian Perindustrian dan Perdagangan memastikan tidak menggunakan Dana Stabilisasi Harga Bahan Bakar untuk periode penyesuaian ini. Kebijakan ini bertujuan menjaga konsistensi harga domestik dengan fluktuasi harga minyak dunia.
Faktor Global yang Mempengaruhi Harga BBM
Harga minyak dunia selama periode 12–19 Februari 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci. Penurunan perkiraan pertumbuhan permintaan global, peningkatan tajam persediaan AS, dan konflik Timur Tengah menjadi faktor utama.
Ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga berkontribusi pada volatilitas pasar. Selain itu, negosiasi perdamaian yang tidak mencapai kompromi menambah ketidakpastian harga minyak global.
Harga rata-rata produk olahan minyak bumi global untuk bensin RON92 turun 1,62%, sedangkan bensin RON95 turun 1,12%. Di sisi lain, minyak tanah naik 0,53%, minyak diesel 0,05S naik 0,25%, dan bahan bakar minyak 180CST 3,5S naik 2,28%.
Kementerian Perindustrian menekankan pengelolaan harga BBM domestik untuk menjaga perbedaan harga wajar antara bio-bensin E5RON92 dan bensin mineral RON95. Kebijakan ini bertujuan mendorong penggunaan bahan bakar nabati serta menjaga keseimbangan kepentingan antar pelaku pasar.
Langkah ini menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak dunia secara langsung memengaruhi harga bensin dan solar domestik. Pemerintah tetap memantau ketegangan geopolitik, produksi OPEC+, dan fluktuasi pasar global untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Dengan pendekatan ini, konsumen dan pelaku industri dapat menyesuaikan strategi penggunaan BBM sesuai tren harga global. Penetapan harga juga memastikan ketersediaan BBM tetap terjaga di seluruh wilayah domestik.