Klaim Grounding Cegah Virus Belum Terbukti Klinis, Ini Fakta Medisnya

Selasa, 15 September 2026 | 05:12:02 WIB
Ilustrasi grounding [FOTO: NET].

JAKARTA - Beraktivitas tanpa alas kaki atau grounding/earthing yang belakangan marak dibahas di media sosial belum dapat dikategorikan sebagai metode untuk menguatkan sistem kekebalan tubuh maupun menangkal infeksi virus. 

Pernyataan ini ditegaskan oleh dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Widya Eka Nugraha, MSiMed. Ia menggarisbawahi bahwa klaim tersebut mesti dicermati secara saksama berlandaskan bukti ilmiah serta kaidah ilmu biomedik.

"Grounding memang dapat mengubah potensial listrik tubuh ketika kulit bersentuhan langsung dengan permukaan bumi yang konduktif. Namun, fenomena fisika tersebut tidak serta-merta berarti terjadi peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus," ujar dr Widya, dikutip dari laman IPB University.

Baru Bukti Pendahuluan, Bukan Dasar Terapi

Ia menguraikan, serangkaian riset awal mengindikasikan adanya potensi keterkaitan grounding terhadap tingkat stres oksidatif, inflamasi, rasa nyeri, kualitas tidur, hingga aktivitas sistem saraf otonom. Kendati demikian, studi yang tersedia umumnya masih dalam skala kecil, memiliki keterbatasan dari segi metodologi, serta belum direplikasi secara konsisten oleh peneliti independen.

"Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bukti pendahuluan, bukan dasar untuk menjadikan grounding sebagai terapi infeksi virus," tuturnya.

Beda Masuk Akal Secara Biologis dan Efektivitas Klinis

Widya menerangkan, masyarakat perlu memilah secara jelas antara biological plausibility (masuk akal secara biologis) dengan clinical effectiveness (efektivitas klinis).

"Suatu mekanisme dapat masuk akal secara biologis, tetapi efektivitas klinis harus dibuktikan melalui uji klinis acak, kelompok kontrol yang tepat, pengukuran objektif, dan replikasi penelitian," kata dia menegaskan.

Secara biologis, kontak kulit dengan permukaan bumi memang memungkinkan terjadinya pertukaran muatan dalam jumlah kecil. Kendati demikian, dr Widya menyebutkan belum ada bukti kuat bahwa elektron yang berpindah sanggup mencapai jaringan tertentu dalam volume yang cukup untuk bekerja sebagai antioksidan atau menguraikan respons imun secara klinis.

Sensasi positif yang dirasakan saat melakoni grounding juga berpeluang dipengaruhi faktor lain, seperti aktivitas berjalan, paparan sinar matahari alami, udara bebas, efektivitas relaksasi, lanskap alam, hingga efek plasebo.

Mekanisme Pertahanan Tubuh yang Kompleks

Dalam merespons ancaman virus, dr Widya melanjutkan, tubuh pada dasarnya memiliki sistem pertahanan internal yang rumit. Sistem imun bawaan bertugas mengenali struktur virus serta memicu produksi interferon dan sitokin guna menghambat replikasi. Sel natural killer dan makrofag turut menyokong pembatasan penyebaran infeksi.

Selanjutnya, imunitas adaptif bekerja memanfaatkan antibodi dari limfosit B beserta limfosit T guna mengoordinasikan serta memusnahkan sel yang terinfeksi. Respon ini wajib berjalan seimbang karena reaksi yang terlampau lemah maupun inflamasi berlebih sama-sama mendatangkan efek buruk.

"Belum ada bukti uji klinis berkualitas tinggi bahwa grounding dapat menurunkan risiko tertular virus, viral load, lama infeksi, rawat inap, atau kematian. Jadi, grounding belum dapat direkomendasikan sebagai pencegahan maupun terapi," jelasnya.

Boleh Dilakukan Sebagai Relaksasi, Bukan Pengganti Medis

Dr Widya menyampaikan bahwa grounding tetap aman dilakoni sebagai sarana rekreasi dan relaksasi, tetapi sama sekali bukan pengganti intervensi medis. Prosedur pencegahan infeksi yang utama tetap bersandar pada vaksinasi, penyediaan ventilasi yang sehat, kebersihan tangan, etika batuk yang benar, pemakaian masker pada situasi berisiko, serta pengobatan medis yang tepat.

Bagi warga perkotaan, menikmati suasana alam dan berjalan santai dapat dijadikan bagian dari pola hidup sehat tanpa perlu menghubungkannya secara otomatis dengan kemampuan mengobati atau menangkal infeksi virus.

"Bagi orang dengan diabetes, gangguan saraf kaki, luka terbuka, atau gangguan keseimbangan, grounding dengan aktivitas tanpa alas kaki perlu dilakukan lebih hati-hati. Permukaan harus aman dari benda tajam, panas berlebihan, dan sumber infeksi agar tetap aman," ucapnya.

Terkini