Tahan Obligasi Subordinasi, BTN Siapkan Sekuritisasi Aset

Kamis, 10 September 2026 | 01:23:02 WIB
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) tetap membuka peluang untuk menerbitkan instrumen pendanaan anyar demi memperkuat struktur permodalan dan likuiditas.

Perseroan memilih untuk menunda penerbitan tambahan obligasi subordinasi (subdebt) sambil memantau kebutuhan modal, namun berniat kembali menjalankan sekuritisasi aset menjelang akhir tahun ini.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menyampaikan bahwa pendekatan pendanaan perseroan berbeda dari kebanyakan bank lain karena model bisnis BTN yang berpusat pada penyaluran kredit perumahan. Kondisi tersebut menjadikan porsi kepemilikan surat berharga BTN cenderung lebih kecil.

“Rasio obligasi kami termasuk SRBI dibanding bank lain memang tidak terlalu besar. Karena BTN heavy di kredit. LDR kami cukup tinggi karena memang bank yang mengabdi untuk menyalurkan kredit perumahan,” ujar Nixon dalam pubex, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) turut memudahkan BTN dalam mengatur likuiditas, mengingat alokasi dana perseroan lebih banyak difokuskan pada ekspansi kredit perumahan alih-alih investasi instrumen surat berharga.

Terkait rencana penerbitan surat utang, Direktur Treasury and International Banking BTN Venda memaparkan bahwa BTN masih mempunyai sisa kuota penerbitan obligasi subordinasi senilai Rp3 triliun dari total plafon yang tersedia sebesar Rp5 triliun. Sebelumnya, BTN telah menerbitkan obligasi subordinasi sejumlah Rp2 triliun pada penghujung tahun lalu.

“Dari platform yang kami punya untuk subordinasi sebesar Rp5 triliun, masih ada sisa Rp3 triliun. Tapi memang melihat kebutuhan permodalan BTN, nanti akan kami sesuaikan,” ujarnya.

Ia menilai bahwa saat ini kondisi permodalan BTN masih terpelihara dengan baik dengan rasio kecukupan modal (CAR) berada di kisaran 17% sampai dengan 18%, selaras dengan sasaran perseroan. Berbekal kondisi tersebut, BTN belum mendesak untuk segera merealisasikan penerbitan obligasi subordinasi tambahan.

“Kalau memang kami membutuhkan, kami masih bisa eksekusi untuk subordinasinya. Saat ini masih wait and see,” tuturnya.

Di samping itu, BTN tengah mempersiapkan langkah sekuritisasi setelah vakum tidak melakukan transaksi tersebut selama dua hingga tiga tahun ke belakang. Instrumen ini nantinya akan dimanfaatkan guna menunjang pengelolaan likuiditas perseroan.

“Rencananya akhir tahun ini kami akan ada sekuritisasi lagi. Yang sedang berjalan sekarang adalah senior debt untuk managing liquidity,” tutup Venda.

Terkini