Badan Geologi ESDM Ungkap Penyebab Dentuman di Bandung Raya

Minggu, 06 September 2026 | 22:46:02 WIB
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan terkait fenomena dentuman misterius yang sempat membuat kaca sejumlah bangunan di wilayah Bandung Raya, Jawa Barat, bergetar pada Jumat (4/9/2026).

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyampaikan bahwa peristiwa tersebut berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terletak di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Erupsi gunung di Selat Sunda itu tercatat berlangsung pada hari yang sama, yakni pada Jumat malam.

"Melihat bahwa kesesuaian waktu dan erupsi Gunung Api Krakatau dan sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat mendukung kuat bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Api Krakatau," jelas Lana dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (6/9/2026).

Lana menerangkan, meskipun jaraknya tergolong jauh dari Gunung Anak Krakatau, suara dentuman yang terdengar sampai ke Bandung Raya dapat dipicu oleh ekspansi cepat dari pelepasan gas, serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi pada bagian konduit atau lubang kepundan.

Lebih lanjut, Lana menuturkan bahwa gelombang akustik berfrekuensi rendah tersebut mampu merambat sangat jauh di bawah kondisi atmosfer tertentu sehingga dirasakan sebagai suara dentuman. Sebagai perbandingan, Ia mencontohkan dentuman dari erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur yang sebelumnya juga terdengar sampai ke wilayah Jawa Tengah.

Selain itu, suara dentuman dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur (NTT) turut terdengar hingga ke kawasan Maumere dan Pulau Alor.

Berdasarkan catatan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi pada waktu tersebut turut diiringi suara gemuruh yang terdengar sampai Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten.

Berdasarkan pengamatan visual, tampak adanya semburan berwarna merah menyala yang terjadi secara terus-menerus. Kendati ketinggian kolom erupsi belum dapat dipastikan secara rinci, karakteristik semburan tersebut menyerupai fenomena lava air mancur atau lava fountain yang berpotensi memicu aliran lava.

Lana mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak merasa panik dalam menghadapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, serta diminta untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum teruji kebenarannya mengenai potensi tsunami.

Demi aspek keselamatan, masyarakat umum, pengunjung, wisatawan, dan para pendaki dilarang keras memasuki ataupun beraktivitas di dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sementara itu, warga yang tinggal di kawasan pesisir Banten dan Lampung tetap dipersilakan menjalankan aktivitas seperti sedia kala dengan senantiasa memantau pemutakhiran informasi dari instansi pemerintah.

"Masyarakat diharapkan juga tidak terpancing isu-isu erupsi Gunung Api Krakatau yang berasal dari sumber tidak terpercaya," ucap Lana.

Kementerian ESDM melalui PVMBG akan terus siaga melakukan pemantauan serta evaluasi menyeluruh terhadap dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat dapat mengakses layanan informasi resmi melalui kantor PVMBG di nomor (022) 7272606 atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau melalui nomor (0254) 651449 / 085846324506.

Informasi terkini mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga bisa dipantau secara mandiri melalui aplikasi MAGMA Indonesia, situs web resmi, serta akun media sosial Kementerian ESDM, Badan Geologi, maupun PVMBG.

Terkini