Waskita Karya Tuntaskan Restrukturisasi Utang, Total Turun ke Rp 66,5 Triliun

Jumat, 04 September 2026 | 12:03:00 WIB

DINAMIKAUANG.COM — Restrukturisasi yang berjalan sejak akhir 2023 itu membawa perbaikan signifikan pada struktur keuangan Waskita. Selain memangkas total utang, perseroan juga berhasil menekan tunggakan utang vendor (past due) hingga 97,1 persen. Angkanya merosot tajam dari Rp 2,13 triliun pada 2022 menjadi hanya tersisa Rp 48 miliar hingga semester I 2026.

Kewajiban tunggakan pajak pun telah dirampungkan 100 persen. Sejak 2024, Waskita tidak lagi memiliki utang pajak past due, sebuah capaian yang turut memulihkan kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap perseroan.

Komitmen Penuhi Kewajiban dan Upaya Cabut Suspensi

Persetujuan dalam RUPO mencakup seluruh usulan restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2019, termasuk poin perpanjangan tenor. Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, menegaskan komitmen perusahaan untuk menyelesaikan seluruh kewajiban yang tersisa.

"Kami akan terus konsisten memenuhi kewajiban yang tersisa. Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus apresiasi atas dukungan mitra yang telah membantu kami menyelesaikan berbagai proyek infrastruktur," ujar Wiwi, Jumat (4/9/2026).

Kesepakatan dengan pemegang obligasi ini menjadi salah satu prasyarat penting bagi upaya pencabutan suspensi saham WSKT di bursa. Proses restrukturisasi Waskita sendiri mengacu pada Master Restructuring Agreement (MRA) yang telah disepakati oleh 21 bank kreditur.

Pendapatan Melonjak Hampir 60 Persen

Perbaikan struktur keuangan berjalan seiring dengan pemulihan kinerja operasional. Pada semester I 2026, Waskita membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 4,92 triliun secara year-on-year (yoy), melesat 58,49 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya Rp 3,1 triliun.

"Peningkatan pendapatan ini didorong oleh produksi dari proyek Sekolah Rakyat (SR) dan jaringan irigasi Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Pencapaian ini membuktikan bahwa restrukturisasi finansial berjalan seiring dengan perbaikan kinerja operasional," jelas Wiwi.

Portofolio proyek yang tengah digarap Waskita mencakup bendungan, rumah sakit, LRT Jakarta Fase 1B, hingga Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato di Timor Leste. Hingga Juni 2026, perolehan Nilai Kontrak Baru (NKB) telah menembus Rp 5,1 triliun, didominasi pekerjaan konektivitas (45,6 persen) dan infrastruktur air (21,7 persen).

Selektif Pilih Proyek, Kembali ke Bisnis Inti

Manajemen menerapkan strategi lebih hati-hati dalam menyeleksi proyek demi mengelola risiko. Waskita kini menghindari proyek dengan skema turnkey maupun investasi, dan beralih fokus pada proyek berbayar bulanan (monthly payment) yang menyediakan uang muka.

Ke depan, perseroan berkomitmen memulihkan operasional dengan kembali ke bisnis inti sebagai kontraktor murni. Waskita juga menjalin komunikasi intensif dengan Daya Anagata Nusantara (Danantara) selaku pengelola investasi negara.

"Kehadiran Danantara memberikan perspektif baru bagi pemulihan dan pertumbuhan Waskita, termasuk optimalisasi aset tol dan dukungan terhadap peta jalan konsolidasi BUMN Karya," tambah Wiwi.

Optimisme tersebut diharapkan mampu memperkuat kinerja berkelanjutan dan daya saing Waskita, sehingga perseroan dapat berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

Terkini