Alfamart Salurkan 510.000 Butir Telur untuk 2.700 Anak Stunting di 39 Daerah

Jumat, 04 September 2026 | 05:01:00 WIB

DINAMIKAUANG.COM — PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) memperluas jangkauan intervensi gizinya pada 2026 dengan menargetkan 2.700 anak balita yang mengalami stunting. Penyaluran ini melibatkan lebih dari 510.000 butir telur dalam periode enam bulan, sebuah langkah yang menyasar kelompok usia kritis pertumbuhan.

Bagaimana Bentuk Implementasi di Lapangan?

Inisiatif yang dikenal dengan Program Satu Telur Sehari (STS) ini tidak berjalan sendiri. Pelaksanaannya melibatkan sinergi tiga pihak utama: pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, dan kader Posyandu. Keterlibatan kader menjadi kunci karena mereka berperan dalam pendampingan langsung sekaligus memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran.

Pendampingan tidak berhenti pada pemberian telur. Para orang tua juga menerima edukasi intensif mengenai pola asuh, pentingnya gizi seimbang, dan penerapan gaya hidup sehat. Tujuannya jelas: agar perbaikan gizi anak tidak hanya berhenti saat program berakhir, melainkan menjadi kebiasaan berkelanjutan di keluarga.

Peran Gerai dalam Layanan Kesehatan Preventif

Di luar program STS, perusahaan ritel ini juga mengoperasikan Alfamart Sahabat Posyandu sejak awal 2023. Layanan yang diadakan di lingkungan gerai ini dirancang untuk mendekatkan akses kesehatan preventif, terutama bagi ibu dan anak yang tinggal di dekat area tersebut.

Hingga saat ini, layanan tersebut telah menjangkau lebih dari 700 titik dan memberikan manfaat kepada lebih dari 70.000 ibu dan balita. Berbagai layanan yang disediakan meliputi pemantauan tumbuh kembang anak, pemberian vitamin, imunisasi, hingga Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Angka Stunting di Indonesia: Mengapa Intervensi Ini Krusial?

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan kognitif yang memengaruhi prestasi belajar dan produktivitas di masa dewasa.

Intervensi yang menyasar anak usia 1-3 tahun dinilai strategis karena periode ini masih berada dalam jendela emas pertumbuhan. Kombinasi pemenuhan protein hewani—seperti telur—dengan edukasi pengasuhan menjadi pendekatan yang umum direkomendasikan untuk memutus rantai malnutrisi.

Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci Keberhasilan

Langkah korporasi ini menunjukkan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, bukan hanya pemerintah. Dengan sumber daya yang dimiliki, sektor swasta dapat mempercepat distribusi bantuan ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Alfamat sendiri tercatat meraih penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau atas kontribusinya. Meski demikian, efektivitas program tetap bergantung pada pengawasan berkelanjutan dari Dinas Kesehatan setempat untuk memastikan setiap anak benar-benar mengalami perbaikan status gizi setelah mengikuti program ini.

Bagi orang tua yang memiliki balita dengan tinggi badan di bawah standar usianya, konsultasi rutin ke Posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat tetap menjadi langkah pertama yang paling disarankan.

Terkini