Kinerja Semester I/2026: Pendapatan SIG Melonjak ke Rp17,65 Triliun

Rabu, 02 September 2026 | 23:20:32 WIB
Pabrik semen terintegrasi milik SIG Group di Tuban, Jawa Timur [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) berhasil membukukan nilai pendapatan sebesar Rp17,65 triliun pada semester I 2026, beriringan dengan melonjaknya volume penjualan serta penguatan strategi bisnis perseroan di tengah dinamika sektor industri bahan bangunan.

Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengutarakan, capaian keuangan konsolidasi semester I 2026 yang telah melalui proses penelaahan secara terbatas (limited review) memperlihatkan kemampuan perseroan dalam menjaga tren pertumbuhan melalui perolehan volume penjualan sebanyak 18,28 juta ton.

“Kinerja penjualan yang positif pada semester I tahun 2026 adalah buah transformasi strategi penjualan pasar mikro yang dijalankan melalui penguatan retail sales dengan mempertajam pola bisnis hingga menjangkau toko-toko bangunan,” kata Vita dalam keterangan resminya dikutip di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut pertimbangannya, lonjakan permintaan semen nasional pada semester I tahun 2026 mampu dimaksimalkan oleh SIG hingga berhasil mengamankan volume penjualan total mencapai 18,28 juta ton, atau tumbuh 5,6 persen yoy dari masa sebelumnya sebesar 17,31 juta ton.

Vita memaparkan, hasil positif tersebut dipicu oleh kenaikan transaksi penjualan domestik yang merambat 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), utamanya bersumber dari segmen semen kantong yang melonjak signifikan sebesar 11,2 persen yoy.

Berjalan seiring dengan melesatnya volume penjualan serta konsistensi dalam menjaga kedisiplinan harga, SIG sukses mencatatkan pendapatan Rp17,65 triliun atau terangkat 13,1 persen yoy jika dibandingkan dengan kurun waktu sebelumnya sebesar Rp15,61 triliun.

Dilihat dari aspek operasional, beban pokok pendapatan tercatat berada di kisaran Rp13,85 triliun. SIG menegaskan efisiensi biaya senantiasa diterapkan secara disiplin demi menjaga kinerja perseroan, kendati terdapat peningkatan biaya bahan bakar dan energi seiring bertambahnya volume penjualan.

Sementara itu, perolehan EBITDA SIG tercatat mencapai Rp2,15 triliun atau terangkat 2,6 persen yoy. Adapun laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menembus Rp228 miliar atau melejit 471,0 persen yoy.

SIG juga konsisten memperkokoh tata kelola arus kas dan permodalan guna mempertahankan tingkat likuiditas serta solvabilitas perseroan. Langkah tersebut membuahkan hasil berupa kemampuan perseroan dalam menjaga arus kas operasi tetap positif sekaligus menekan saldo pinjaman.

Dampaknya, beban keuangan bersih pada semester I 2026 berhasil ditekan hingga turun 34,5 persen yoy selaras dengan melandainya utang berbunga.

Vita menyampaikan, capaian tersebut menjadi pembuktian atas daya tahan SIG dalam mengarungi tantangan industri lewat strategi transformasi yang terus direalisasikan.

Catatan positif ini turut berjalan selaras dengan komitmen BP BUMN dan Danantara dalam memacu transformasi BUMN agar sanggup menciptakan nilai tambah bagi negara maupun seluruh pemangku kepentingan.

Vita menambahkan, prospek penjualan SIG pada semester II 2026 diperkirakan tetap cerah seiring dengan tren pemulihan permintaan semen domestik. Kinerja pertumbuhan diproyeksikan masih ditopang oleh segmen semen kantong, sedangkan segmen bulk (curah) mulai memperlihatkan sinyal kebangkitan beriringan dengan kian aktifnya kegiatan konstruksi, pembangunan proyek infrastruktur, investasi industri, serta program hilirisasi.

Sebagai wujud penguatan pangsa pasar, SIG juga kembali memasarkan Semen Kujang yang mengusung ikatan emosional kuat dengan masyarakat serta telah lama menjadi bagian dari pembangunan di wilayah Jawa Barat.

Di samping memperkokoh lini bisnis utama semen, SIG terus memacu transformasi menuju Total Building Solution melalui penghadiran produk-produk turunan yang inovatif dan ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan konstruksi modern.

Upaya tersebut ditempuh guna mengoptimalkan potensi industri bahan bangunan nasional yang masih menyimpan ruang ekspansi yang luas. Saat ini, sektor industri semen menyumbang sekitar 11 persen dari keseluruhan biaya material konstruksi bangunan, sementara terdapat peluang sebesar 89 persen dari jenis bahan bangunan lainnya yang masih dapat dikembangkan.

Terkini