Kenali Gejala Awal Penyakit Ginjal yang Sering Tak Disadari

Selasa, 01 September 2026 | 18:18:00 WIB

DINAMIKAUANG.COM — Penyakit ginjal kronis dikenal sebagai "silent killer" karena gejalanya baru muncul setelah kerusakan sudah cukup berat. Kondisi ini sangat relevan di Indonesia, mengingat tingginya jumlah penderita diabetes dan hipertensi yang merupakan dua faktor risiko utamanya.

Mengapa Diabetes dan Hipertensi Mengancam Ginjal?

Gula darah yang terus-menerus tinggi dapat merusak sistem penyaringan di dalam ginjal. Sementara itu, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol akan merusak pembuluh darah halus di organ tersebut. Keduanya bekerja secara perlahan namun pasti menurunkan fungsi ginjal.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Mutalib Abdullah, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa pasien seringkali tidak merasakan keluhan berarti.

"Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip dari Liputan6.com.

Praktisi di Urology and Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong ini juga mengingatkan soal konsumsi gula. Minuman manis tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal, tetapi gula berlebih meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak dikontrol dalam jangka panjang, ginjal ikut rusak.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Meski tidak khas, ada beberapa tanda yang patut diwaspadai jika muncul secara menetap, terutama pada orang dengan faktor risiko. Berikut gejalanya:

  • Perubahan frekuensi atau jumlah urine
  • Urine berbusa secara menetap
  • Pembengkakan pada kaki
  • Mudah lelah tanpa sebab jelas
  • Mual dan penurunan nafsu makan
  • Tekanan darah yang sulit dikontrol

Selain diabetes dan hipertensi, beberapa kebiasaan juga memperbesar risiko kerusakan ginjal. Pola makan tinggi garam, kurang bergerak, merokok, berat badan tidak terkontrol, serta penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan perlu diwaspadai. Penyakit ginjal juga bisa dipicu batu saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.

Kapan Harus Memeriksakan Fungsi Ginjal?

Penurunan fungsi ginjal baru bisa diketahui pasti melalui pemeriksaan. Dokter biasanya memeriksa kadar kreatinin darah dan memperkirakan nilai eGFR (estimated glomerular filtration rate) untuk menilai seberapa baik ginjal menyaring limbah. Pemeriksaan urine juga dilakukan untuk mendeteksi adanya albumin atau protein yang bocor.

dr. Mutalib menyarankan pemeriksaan secara berkala bagi kelompok berisiko. "Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala," pesannya.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menambahkan bahwa penanganan gangguan ginjal dan saluran kemih harus menyeluruh. "Kami percaya bahwa penanganan penyakit ginjal dan saluran kemih membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terkoordinasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien," ujarnya.

Semakin dini gangguan ginjal terdeteksi, semakin besar peluang memperlambat progresivitasnya. Jika Anda termasuk kelompok berisiko atau mengalami gejala di atas secara menetap, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan fungsi ginjal.

Terkini