Program Kriyasi Anyam dan Sulam Kemenekraf Bangkitkan Perajin Payakumbuh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 21:03:33 WIB
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) secara konsisten mengupayakan pemulihan sektor ekonomi kreatif yang terdampak bencana di wilayah Sumatera Barat, khususnya di Kota Payakumbuh, lewat pelaksanaan program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam demi membangkitkan kembali gairah produktivitas serta daya saing perajin kriya lokal.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ekraf Peduli, sebagai wujud kepedulian dan komitmen Kementerian Ekraf dalam mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk kembali pulih, memperkuat usaha, dan bangkit, melalui semangat ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’. Karena pendampingan yang berkelanjutan akan memastikan ekosistem kriya daerah semakin tangguh menghadapi tantangan,” ujar Wakil Menteri Ekraf, Irene Umar, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Irene menyampaikan bahwa bidang kerajinan tangan anyaman dan sulam merupakan warisan kebudayaan sekaligus salah satu pilar penggerak ekonomi kerakyatan yang mempunyai potensi besar di Payakumbuh. 

Guna memulihkan sektor ekonomi kreatif di Sumatera Barat, produk sulam dan anyam wajib terus dieksplorasi agar mempunyai nilai tambah tinggi serta kian kompetitif di kancah nasional maupun global.

Penguatan potensi lokal ini sejalan dengan tren kenaikan ekonomi kreatif secara nasional. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Kementerian Ekraf, subsektor kriya memperlihatkan performa yang konsisten positif.

Angka ekspornya melonjak dari kisaran 3,47 miliar dolar AS pada Januari-April 2025 menjadi 3,82 miliar dolar AS dalam rentang waktu yang setara di tahun 2026. Sepanjang 2025, subsektor kriya turut menyumbang 10,7 persen terhadap ekosistem ekonomi kreatif, dengan tingkat pertumbuhan menyentuh 2,36 persen.

Irene menuturkan agar barang produksi lokal mampu merangsek ke pangsa pasar yang lebih luas, dirinya mengimbau para perajin agar merancang produk yang memiliki muatan cerita sejarah serta makna filosofis mendalam, sehingga pembeli tidak sekadar memandang aspek fisik melainkan turut mengapresiasi tinggi nilai dari barang tersebut.

“Cerita pada sebuah produk itu penting agar pembeli tahu alasan dan makna di balik barang yang mereka beli. Tanpa adanya cerita, orang hanya akan melihat barang dari keindahan bentuk dan harganya saja. Padahal buatan tangan manusia mengandung nilai sejarah dan doa yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin, ketika pembeli memahami cerita di baliknya, saya yakin produk lokal ini tidak hanya bernilai tinggi, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas,” ungkap Irene.

Inisiatif Program Kriyasi Anyam garapan Kementerian Ekraf ini dijalankan bersama Pemerintah Kota Payakumbuh guna mempercepat pemulihan serta mengerek kapasitas para pelaku usaha kriya yang tertimpa musibah bencana. Pendampingan tersebut mencakup aspek perancangan desain, peningkatan keahlian produksi, hingga pengembangan produk yang disesuaikan dengan selera pasar.

Sesi lokakarya ini diikuti oleh 50 orang peserta, yang terdiri atas 25 perajin di bidang kriya anyam dan 25 perajin di bidang kriya sulam. Seluruh peserta mendapatkan materi pemaparan serta praktik langsung yang dipandu oleh Rumpun Consulting untuk kategori produk sulam, serta Balai Besar Kerajinan dan Batik untuk kategori produk anyam.

Melalui kegiatan pelatihan ini, para perajin diharapkan mampu merevitalisasi pemanfaatan material beserta wawasan kerajinan lewat inovasi produk yang selaras dengan permintaan pasar, menumbuhkan kepekaan terhadap pentingnya pola pikir desain (design thinking), serta mendongkrak mutu dan nilai tambah karya mereka. 

Seluruh rangkaian upaya tersebut bermuara pada peningkatan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik.

Salah satu peserta Program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam, Maipanis, menuturkan bahwa kegiatan ini memberikan banyak manfaat, tidak sekadar tambahan ilmu serta pendampingan teknis, tetapi juga suntikan motivasi untuk terus berkreasi dan mengembangkan produk anyaman agar memiliki kualitas serta daya saing yang tangguh.

“Semoga melalui kegiatan ini, produk kriya lokal dapat semakin maju dan memiliki peluang yang lebih besar untuk dikenal hingga ke pasar yang lebih luas,” ujar Maipanis.

Terkini