Transformasi Bisnis Berhasil, Laba Kotor TOBA Melesat Dua Kali Lipat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:49:31 WIB
PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) membukukan pencapaian peningkatan laba kotor konsolidasi hingga melampaui dua kali lipat sepanjang semester I/2026. Kinerja positif ini disokong oleh kontribusi dominan dari lini bisnis non-batu bara.

Direktur dan Chief Financial Officer TOBA Juli Oktarina merinci bahwa pada kurun waktu Januari hingga Juni 2026, perseroan berhasil mengantongi laba kotor konsolidasi senilai US$28,2 juta (sekitar Rp503,57 miliar menggunakan kurs Rp17.857,14 per dolar AS), naik dari angka US$13,9 juta (sekitar Rp248,21 miliar) pada semester I/2025.

Pencapaian tersebut dipicu oleh penurunan beban pokok pendapatan sebesar US$13,5 juta (sekitar Rp241,07 miliar) yang turut mendongkrak margin kotor dari 8,1% menjadi 16,3%.

Pada lini pendapatan utama (top line), pemasukan dari kontrak pelanggan tercatat naik tipis dari US$172,21 juta (sekitar Rp3,08 triliun) menjadi US$173,02 juta (sekitar Rp3,09 triliun). Dari total nilai tersebut, segmen pengelolaan limbah mengambil porsi sebesar 61,2% dari total pendapatan konsolidasi serta menyumbang 92% dari EBITDA konsolidasi, dengan laju pertumbuhan pendapatan mencapai 77,8% YoY.

"Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis ini lah yang menghasilkan kas. Ini lah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan," kata Juli dalam siaran pers, Jumat (28/8/2026).

Meninjau dari sudut profitabilitas, laba kotor pada segmen pengelolaan limbah terangkat 91,9% YoY menjadi US$17,6 juta (sekitar Rp314,29 miliar) dari sebelumnya US$9,2 juta (sekitar Rp164,29 miliar), yang membuat margin segmen ikut terkerek menjadi 16,6% dari 15,4%. Perolehan EBITDA segmen ini pun melesat lebih dari dua kali lipat ke angka US$23,6 juta (sekitar Rp421,43 miliar) dibandingkan periode setara tahun lalu.

Di samping itu, segmen kendaraan listrik membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 184% YoY hingga menyentuh US$9,1 juta (sekitar Rp162,50 miliar). Laba kotor segmen ini berbalik positif menjadi US$0,4 juta (sekitar Rp7,14 miliar) dari posisi sebelumnya yang masih merugi US$0,5 juta (sekitar Rp8,93 miliar). Posisi EBITDA segmen tersebut juga berbalik dari rugi menjadi laba senilai US$0,5 juta (sekitar Rp8,93 miliar).

Bergeser pada lini bisnis konvensional yang secara bertahap mulai ditinggalkan, pemasukan dari sektor batu bara mengalami koreksi 4,1% YoY menjadi US$34,9 juta (sekitar Rp623,21 miliar). Kendati demikian, laba kotor segmen ini justru membaik menjadi US$9,3 juta (sekitar Rp166,07 miliar) dari US$1,3 juta (sekitar Rp23,21 miliar), sehingga margin segmen terdongkrak naik dari 3,5% ke level 26,6%.

 Peningkatan margin ini didukung oleh efisiensi biaya produksi. Perolehan EBITDA segmen batu bara pun turut berangsur membaik ke angka US$1,3 juta (sekitar Rp23,21 miliar) dari sebelumnya mencatatkan kerugian US$11,1 juta (sekitar Rp198,21 miliar) pada periode yang sama tahun lalu.

Meskipun performa operasional menunjukkan perbaikan, secara bottom line TOBA secara konsolidasi masih membukukan rugi bersih senilai US$19,65 juta (sekitar Rp350,89 miliar). Walau tercatat negatif, angka kerugian tersebut jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rugi bersih pada semester I/2025 yang mencapai US$115,61 juta (sekitar Rp2,06 triliun).

"Rugi perseroan menyusut signifikan seiring tidak berulangnya kerugian divestasi 2025. Meski masih mencatat rugi, kerugian tersebut berasal dari langkah-langkah yang diperlukan untuk transisi bisnis," tandasnya.

Lebih lanjut, komponen rugi tersebut terdiri atas rugi non-kas yang bersumber dari depresiasi serta amortisasi sehubungan dengan akuisisi Cora Environment. Selain itu, terdapat pula beban rugi berbasis kas yang berasal dari pembiayaan aksi merger dan akuisisi guna mengakselerasi transisi bisnis menuju infrastruktur berkelanjutan serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Terkini