Kemenekraf Dorong Talenta Teknologi Hasilkan Produk Berdaya Saing

Rabu, 26 Agustus 2026 | 01:52:01 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendorong penguatan talenta teknologi baru agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi perkembangan teknologi, melainkan mampu mencetak produk, kekayaan intelektual, serta model bisnis digital yang mempunyai daya saing global.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa pengembangan talenta pada sektor blockchain, Web3, serta teknologi baru memegang peranan krusial guna menghadirkan sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mendongkrak nilai tambah ekonomi kreatif tanah air.

“Pemerintah ingin Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga sebagai builder. Kami ingin semakin banyak founder, developer, creator, dan entrepreneur Indonesia yang membangun solusi berkelas dunia serta membawa kekayaan intelektual dari tingkat lokal menjadi juara nasional dan mampu bersaing ke pasar global,” ujar Riefky dalam keterangan yang diterima, Rabu.

Langkah strategis tersebut salah satunya diwujudkan lewat kerja sama Kemenekraf bersama ShardLab.Ltd dalam ajang Final Demo Day Protocol Camp Cohort 9 yang terselenggara di tengah rangkaian acara Coinfest Asia 2026 di Bali.

Inisiatif Protocol Camp sendiri dirancang sebagai program bootcamp serta mentorship berdurasi 12 minggu yang mempertemukan para builder dari berbagai belahan negara Asia. Sebanyak enam talenta asal Indonesia ikut ambil bagian dalam Cohort 9 ini, setelah sebelumnya melewati tahapan Mid Demo di Seoul pada bulan Juli 2026.

Riefky menambahkan bahwa penguatan talenta teknologi ini selaras dengan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045 yang menetapkan Teknologi Baru sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif. Lingkup subsektor ini mencakup blockchain, kecerdasan artifisial (AI), Internet of Things (IoT), cyber security, robotika, semikonduktor, hingga komputasi kuantum.

Menurut pandangannya, teknologi baru kini tidak lagi sekadar berperan sebagai pendukung, melainkan mampu menjelma menjadi motor penggerak penciptaan nilai ekonomi baru.

“Teknologi baru seperti blockchain dan AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi pendukung, tetapi sebagai bagian dari perkembangan ekosistem ekonomi kreatif yang dapat menciptakan nilai ekonomi baru,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenekraf Muhammad Neil El Himam mengemukakan bahwa tantangan ke depan terletak pada upaya memastikan kapabilitas teknologi tersebut mampu diubah menjadi produk serta model bisnis yang mendatangkan dampak ekonomi nyata.

“Fokus kami tidak boleh berhenti pada teknologinya, tetapi pada bagaimana teknologi tersebut diterjemahkan menjadi produk, model bisnis, dan solusi yang memberikan dampak nyata serta menciptakan nilai tambah bagi ekonomi kreatif,” ujar dia.

Agenda Final Demo Day Cohort 9 mempertemukan 10 tim builder dari berbagai negara di Asia guna memaparkan produk hasil pengembangan mereka sepanjang program berlangsung. 

Salah satu inovasi datang dari Serenade Data asal Indonesia yang merancang platform literasi keuangan khusus anak melalui pendekatan gamification berupa simulasi menabung serta investasi.

Keterlibatan talenta Indonesia dalam ajang internasional ini dipandang mampu membukakan jalan menuju akses mentor, jejaring industri luas, serta ekosistem teknologi tingkat regional.

Dengan demikian, pengembangan teknologi baru tidak hanya difokuskan untuk memperluas basis pengguna domestik, melainkan turut melahirkan perusahaan serta produk digital nasional yang sanggup menembus pasar Asia maupun global.

Terkini