Rupiah Diprediksi Melemah terhadap Dolar AS pada Perdagangan Hari Ini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 21:56:33 WIB
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Tingkat nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak secara fluktuatif dengan mengindikasikan kecenderungan melemah pada sesi perdagangan hari Rabu (26/8/2026).

Merujuk pada catatan data dari Doo Financial Futures, saat penutupan perdagangan hari Senin (24/8/2026), nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 0,15 persen ke level Rp17.721 per dolar AS. 

Pelembutan nilai tukar ini turut dialami oleh sejumlah deretan mata uang utama kawasan Asia lainnya, seperti baht Thailand yang terkoreksi turun 0,01 persen, ringgit Malaysia melemah 0,10 persen, yuan China turun 0,03 persen, serta rupee India yang menyusut 0,02 persen.

Ragam mata uang regional Asia yang lain turut mencatatkan pelemahan, yakni dolar Taiwan sebesar 0,04 persen, dolar Singapura turun 0,08 persen, serta yen Jepang yang merosot 0,16 persen. Di seberang kutub berbeda, mata uang dolar Hong Kong justru menguat 0,04 persen dan won Korea Selatan mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa penguatan indeks dolar AS pada perdagangan hari ini dipengaruhi sejumlah sentimen. Salah satunya adalah rencana AS memberikan sanksi kepada Iran. 

Pernyataan pejabat AS tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan adanya perang ekonomi terhadap Iran, terutama di tengah kebuntuan yang terus berlanjut di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di sisi lain, aktivitas bisnis sektor jasa AS tercatat solid. Indeks PMI Jasa S&P Global AS pada Agustus mencapai 56,8, melampaui perkiraan 54 dan naik dari 54,6 pada bulan sebelumnya. Angka tersebut juga menjadi level tertinggi sejak Desember 2024.

Ibrahim menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga energi di tengah ketegangan dengan Iran dapat meningkatkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Dari ranah domestik dalam negeri, pasar merespons secara negatif atas data pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II/2026 yang membengkak hingga menyentuh angka US$12,5 miliar atau setara dengan porsi 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

 Pembengkakan defisit transaksi berjalan tersebut dipicu oleh sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer. Salah satu faktor pendorong utamanya adalah peningkatan volume impor minyak yang berjalan seiring dengan tingginya tren harga minyak di pasar global.

Lebih lanjut, Ibrahim turut menyoroti performa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada periode triwulan II/2026 yang membukukan defisit sebesar US$900 juta, angka yang jauh lebih rendah manakala dikomparasikan dengan catatan defisit pada triwulan I/2026 yang mencapai US$9,1 miliar. 

Perbaikan performa tersebut berhasil ditopang oleh sektor transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatatkan surplus senilai US$12 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya sempat mengalami defisit sebesar US$4,8 miliar.

“Para analis memperingatkan bahwa kesenjangan transaksi berjalan Indonesia ini mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan terus meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran, serta Rusia dan Ukraina di Eropa Timur,” katanya dalam keterangan resminya, Senin (24/8/2026).

Menyongsong jalannya perdagangan sepanjang hari ini, rupiah diproyeksikan terus bergerak fluktuatif dengan mengarah pada tren pelemahan, serta diestimasi bakal ditutup pada kisaran rentang level Rp17.720 hingga Rp17.770 per dolar AS.

Terkini