Cara Atasi Kebiasaan Membandingkan Bentuk Tubuh di Media Sosial

Jumat, 21 Agustus 2026 | 01:54:02 WIB
Ilustrasi laki-laki berkaca di cermin [FOTO: NET].

JAKARTA - Akses media sosial makin memudahkan kami memantau penampilan fisik orang lain. Hanya berbekal usapan jemari di layar hp, kami dapat menjumpai deretan foto visual tubuh idaman, agenda latihan fisik, hingga aneka konten pola makan serta program penurunan berat badan.

Terpaan visual tersebut acap kali membuat seseorang tanpa disadari mulai menyandingkan kondisi fisiknya dengan orang lain.

Pihak American Psychological Association (APA) bahkan menyarankan kalangan remaja untuk membatasi pemakaian media sosial terkait perbandingan sosial, utamanya yang berikatan dengan standar kecantikan serta penampilan fisik.

Lantas, bagaimana langkah meredam kebiasaan membandingkan fisik dengan orang lain di jagat maya?

Tips mengurangi kebiasaan membandingkan diri di media sosial:

1. Sadari bahwa konten media sosial tidak selalu menggambarkan kenyataan Langkah awal yang perlu ditanamkan yaitu mengingat bahwa sajian di media sosial merupakan materi yang telah disaring dan dikurasi. Seseorang umumnya cuma memajang foto atau rekaman video yang dinilai paling memikat. Pencahayaan, sudut pengambilan gambar, proses penyuntingan, hingga rekayasa filter dapat mengubah visual asli seseorang. Oleh sebab itu, menyandingkan fisik sendiri dengan unggahan orang lain tidaklah setara.

2. Perhatikan akun yang membuat Anda merasa buruk tentang tubuh sendiri Cermati respons emosional usai menyimak konten tertentu. Apakah timbul dorongan positif, wawasan baru, dan hiburan? Atau malah merasa bentuk tubuh kurang ideal, bersalah usai menyantap makanan, hingga terdorong menjalani diet ketat? Apabila suatu akun terus memantik emosi negatif atas diri sendiri, pertimbangkan untuk berhenti mengikuti atau membatasi paparan unggahannya.

Disadur dari Verywell Mind, Elizabet Altunkara, LMSW, direktur National Eating Disorders Association, menyarankan pemantauan terhadap akun-akun yang memicu pola tidak sehat atau menurunkan rasa percaya diri. Melalui langkah ini, pengguna tidak wajib menutup akun media sosial secara total, melainkan cukup menyesuaikan jenis tontonannya.

3. Kurangi konten yang mendorong standar tubuh tertentu Riset yang terbit pada jurnal Body Image tahun 2025 mengungkapkan bahwa makin tinggi dorongan seseorang melakukan komparasi sosial secara daring, makin erat hubungannya dengan masalah citra tubuh serta indikasi gangguan makan. Tinjauan sistematis dan meta-analisis tersebut melibatkan 83 riset dengan total 55.440 responden. Maka dari itu, penting untuk tidak menjadikan konten media sosial sebagai tolok ukur tunggal mengenai visual tubuh sehat.

4. Alihkan perhatian dari bentuk tubuh ke fungsi tubuh Metode lain untuk menekan dorongan membandingkan fisik adalah dengan mengubah cara pandang terhadap tubuh sendiri. Ketimbang cuma merenungkan apakah fisik terlihat kurus, ramping, atau berotot, cobalah fokus pada kemampuan yang bisa dilakukan tubuh dalam dinamika harian. Cynthia M. Bulik, PhD, pendiri University of North Carolina Center of Excellence for Eating Disorders, merekomendasikan metode ini.

Bulik menyarankan tindakan body inventory, yakni mengamati ragam peran organ tubuh serta mengapresiasi hal-hal yang dapat dilakukan oleh tubuh. Contohnya, bersyukur atas keberadaan kaki karena membantu kami berjalan, paru-paru lantaran menopang pernapasan, atau jemari tangan karena memfasilitasi pelbagai pekerjaan harian. Pola pikir ini membantu memindahkan fokus agar tidak terus-menerus terpaku pada kekurangan visual.

5. Jangan jadikan olahraga sebagai cara untuk “menghukum” tubuh Aktivitas olahraga tentu menyimpan beragam faedah bagi kebugaran tubuh. Namun, niat dasar di balik kegiatan fisik tersebut tetap perlu dicermati. Bilamana olahraga dikerjakan semata-mata demi mengubah wujud tubuh akibat merasa kalah bersaing dengan unggahan orang lain, tujuan mulia dari olahraga itu sendiri bisa memudar. Oleh karenanya, kembalikanlah hakekat olahraga pada pencapaian kebugaran, penambahan daya tahan, serta pemeliharaan stamina tubuh.

6. Bangun kebiasaan membandingkan diri dengan lebih kritis Kecenderungan komparasi sosial memang sukar ditepis sepenuhnya. Meski demikian, seseorang dapat melatih diri untuk bersikap kritis terhadap standar tampilan di dunia maya. Contohnya, saat melihat tubuh seseorang yang tampak sempurna, ajukan pertanyaan internal: apakah fisik tersebut menggambarkan kondisi rata-rata orang? Apakah fotonya telah melewati proses penyuntingan? Apakah saya memahami riwayat kesehatan serta rutinitas harian orang tersebut?

Pihak APA mengimbau peningkatkan literasi media sosial supaya para pengguna memiliki kecakapan dalam mencerna serta mengevaluasi setiap tayangan, termasuk sajian perihal wujud fisik dan kecantikan. Melalui pendekatan ini, media sosial tak lagi dipandang bagai cermin utama yang menentukan kelayakan kondisi fisik kami.

Terkini