JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat respons bauran kebijakan moneter untuk menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran. Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan (yoy), turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,34% yoy.
Perkembangan inflasi tersebut didukung inflasi inti yang tetap terjaga sebesar 2,76% yoy, sejalan dengan konsistensi kebijakan BI.
Sementara itu, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices (AP) tercatat 3,58% yoy. Perkembangan tersebut seiring dengan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax.
Adapun inflasi kelompok volatile food (VF) melambat menjadi 2,52% yoy. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh periode panen komoditas hortikultura, khususnya aneka cabai dan bawang merah.
"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan moneter agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027," ujar Destry dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).
Selain itu, BI akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah untuk memitigasi dampak rambatan global berupa imported inflation. BI juga memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID), termasuk melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga inflasi pangan, termasuk mengantisipasi risiko gangguan cuaca seperti El Nino yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan.