Perkuat Hilirisasi Minyak Nilam, Kemenperin Siap Pacu Ekspor Atsiri RI

Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:12:32 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang memperkokoh hilirisasi minyak nilam untuk meningkatkan nilai tambah industri minyak atsiri, sekaligus memacu pertumbuhan ekspor komoditas tersebut ke pasar internasional.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengutarakan, performa ekspor minyak atsiri Tanah Air memperlihatkan prospek yang kian menjanjikan.

Dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, disampaikan ia bahwa menurut data perdagangan tahun 2025, nominal ekspor produk minyak atsiri Indonesia pada HS 3301 mencapai 348,7 juta dolar AS, naik sekitar 34,4 persen dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 259,5 juta dolar AS.

“Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Menperin.

Lebih jauh, pada 2025, Indonesia terdaftar sebagai eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia setelah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil. Pada kurun waktu yang sama, nilai perdagangan ekspor minyak atsiri global mencapai sekitar 6,49 miliar dolar AS, naik dari 6,29 miliar dolar AS pada 2024.

Menurut Menperin, pembangunan industri minyak atsiri masih menjumpai kendala dalam menciptakan produk turunan dengan nilai ekonomi yang lebih besar. Akan tetapi, minyak nilam atau patchouli oil mempunyai peluang lebar untuk dikembangkan sebab Indonesia memiliki basis produksi serta pasar ekspor yang tangguh.

Data perdagangan memperlihatkan nilai ekspor minyak nilam Indonesia pada 2025 mencapai 173,4 juta dolar AS, naik sekitar 22,7 persen dibandingkan tahun 2024 yang sejumlah 141,3 juta dolar AS.

Produk tersebut telah mempunyai pangsa pasar ekspor yang tersebar di beragam negara, antara lain India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, serta Turki.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menuturkan, pengembangan hilirisasi minyak nilam mempunyai potensi besar untuk menciptakan produk turunan bernilai tambah tinggi melalui teknologi pemurnian serta fraksinasi.

Produk turunan tersebut antara lain hi-grade patchouli, fragrance, antiseptic, medicated oil, dan aromatherapy.

“Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku, tetapi juga menjadi input bagi industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi,” ujar Putu.

Putu menambahkan, pengembangan hilirisasi minyak nilam yang masuk dalam kategori atsiri ini, harus dilakukan secara terpadu dengan menguatkan ekosistem industri dari sisi hulu sampai hilir.

Langkah tersebut mencakup peningkatan kapabilitas petani dan penyuling, penguatan kelembagaan seperti koperasi, peningkatan mutu serta kesinambungan bahan baku, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan.

Terkini